Print this page
%AM, %21 %340 %2018 %07:%Mar

Dunia Kesehatan Disasar oleh Layanan Uber-Health

Written by
Rate this item
(0 votes)

Uber Health merupakan fitur baru dari perusahaan rintisan penyedia transportasi asal California, Uber, yang akan menjawab permasalahan dalam transportasi menuju rumah sakit.

Dilansir dari Tech News World, Selasa (7/3/2018), Uber berharap layanan barunya ini dapat membantu lansia dan mereka yang kesulitan dalam mencari transportasi untuk pergi ke dokter.

Layanan ini memungkinkan profesional di bidang kesehatan, untuk memesankan tumpangan bagi pasiennya. Terdapat lebih dari 100 organisasi perawatan kesehatan AS termasuk rumah sakit, klinik, pusat rehabilitasi telah menggunakan layanan baru tersebut sebagai bagian dari program percobaan.

Dengan Uber Health, profesional kesehatan dapat menjadwalkan langsung tumpangan atau dalam 30 hari sebelumnya. Dari sisi pasien, mereka tak memerlukan ponsel pintar atau aplikasi untuk merasakan layanan ini. Karena pasien akan dihubungi melalui SMS atau telepon langsung.

"Layanan ini (Uber Health) tidak dimaksudkan sebagai sebuah pelayanan darurat. Layanan ini cepat, dapat diandalkan, tapi jelas ini bukan ambulans. Untuk orang-orang yang butuh dibawa ke rumah sakit dengan EMT (Emergency Medical Technician) kami selalu mendorong mereka agar menghubungi 911," ujar Chris Weber, Uber Health General Manager.

Melalui blognya, Uber menyatakan bahwa layanan ini akan memudahkan organisasi dalam memonitor pengeluaran untuk transportasi. Dimana sistem akan melaporkan perjalanan yang diminta, dimana pengguna dapat melihat laporan tagihan bulanan, serta janji temu. Disisi lain, laporan penjadwalannya juga dibuat secara sederhana.

Uber Health sebenarnya telah diuji sejak 2017, yang mana baru diluncurkan di Amerika Serikat. Sementara itu, di Indonesia sendiri belum ada informasi mengenai kehadiran layanan tersebut.

Selain berinovasi untuk pasien, Uber juga dikabarkan akan meningkatkan layanan terhadap supir agar mereka mendapat istirahat yang cukup.

Hal tersebut disampaikan oleh Uber melalui situsnya. Dalam pernyataannya, Uber menjelaskan akan ada fitur baru di aplikasi yang mengharuskan sopir memasuki modus offline selama 6 jam penuh setelah berkendara selama 12 jam.

Fitur tersebut akan aktif secara otomatis, sehingga pengemudi akan langsung offline selama 6 jam. Setelah waktu istirahat selesai, pengemudi baru bisa menerima permintaan order kembali.

Keputusan Uber dalam membesut fitur baru ini, didasarkan atas penelitian National Sleep Foundation yang mengungkap bahwa hampir sejumlah tujuh juta orang tertidur saat menyetir.

Read 1747 times Last modified on %AM, %21 %415 %2018 %08:%Mar