Kisah dan Curhat

Kisah dan Curhat (100)

Kegiatan lain yang harus dilakukan di bulan Ramadhan ialah:

8. I’tikaf

I’tikaf adalah tetap tinggal di masjid untuk taqqarrub kepada Allah Swt dan menjauhkan diri dari segala aktifitas keduniaan, sebagaimana hadist Nabi Saw: “Rasulullah saw ketika memasuki sepuluh hari terakhir menghidupkan malam harinya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya” (HR.Bukhari dan Muslim).

9. Umrah

Umrah pada bulan Ramadhan juga sangat baik dilakukan sebagaimana hadits Rasulullah Saw: “Agar apabila datang bulan Ramadhan, hendaklah ia melakukan umrah, karena nilainya setara dengan haji bersama Rasulullah saw” (HR.Bukhari dan Muslim).

10. Motivasi Berpuasa karena Allah.

“Semua amal anak Adam adalah untuknya, satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipatnya sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Swt berfirman: kecuali puasa, ia adalah untuk-Ku, dan Aku yang akan membalasnya. Sesungguhnya ia telah meninggalkan syahwatnya, makanannya, dan minumannya demi Aku.” Orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, yakni pertama waktu berbuka dan kedua, waktu bertemu Robbnya. Sungguh bau tidak sedap mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah Swt daripada minyak misik.

11. Memberikan Makanan pada Orang yang Berbuka Puasa.

“Barangsiapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa dan yang berpuasa itu tidak dikurangi pahalanya sedikitpun” (HR Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban).

12. Mengakhirkan Sahur dan Menyegerakan Berbuka Puasa

“Bersahurlah, sesungguhnya dalam sahur itu ada keberkahan” (HR Muslim). Dan makan sahur merupakan pembeda puasa orang Mukmin dengan orang kafir.

13. Menjaga Anggota Tubuh

Menjaga mata, telinga dan lidah serta anggota-anggota tubuh lainnya dari perbuatan yang tidak ada faedahnya, dan menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan dosa. Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang tidak menjauhkan kata-kata dan perbuatan bohong, maka Allah tidak menerima puasanya” (HR Bukhari).

14. Memberi Perhatian Lebih kepada Keluarga

Memberikan perhatian yang lebih besar, baik moral ataupun material kepada keluarga dan sanak famili serta memperbanyak sedekah kepada fakir miskin. Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan beliau saw lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan. Ketika bertemu Jibril ‘alaihis salam berkata, “Sungguh kedermawanan beliau saat itu lebih kuat daripada angin yang bertiup” (HR Muttafaqun ‘alaih).

15. Pandai Menentukan Skala Prioritas Amal

Dalam Ramadhan banyak sekali amal-amal sunah yang dapat kita lakukan. Oleh karena itu, kita harus pandai mengutamakan amal yang lebih penting, yang lebih banyak manfaatnya dan lebih cepat mengantarkan ke surga, baik berupa berjuang di jalan Allah dalam menegakkan kalimat-Nya ataupun berinfaq fi sabilillah, seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan sahabat-sahabatnya.

Ketika orang-orang minta dispensasi dari berinfaq dan berjihad, Rasulullah saw bersabda: “Tidak bershadaqah, dan tidak berjihad? Jadi, dengan apa kamu ingin masuk surga? “

Shalat tarawih adalah shalat sunnah, jangan sampai karena mengejar pahala sunnah hal-hal wajib yang diperintahkan Allah dan Rasul-Nya justru kita tinggalkan, misalnya tuma'ninah dalam shalat dan membaca Al Qur'an dalam shalat dengan tartil. (Choniyu Azwan)

1. Meningkatkan kesadaran Muraqabah

Kita harus selalu merasa diawasi (muraqabah) terus oleh Allah swt yang Maha Mengetahui, dan selalu menyadari bahwa diri kita tengah berpuasa. Kita tengah beribadah dalam rangka mencapai ketaqwaan. Allah SWT berfirman :

“Dan agar kamu mengagungkan Allah sesuai dengan apa yang ditunjukkan kepadamu.” (QS Al Baqarah: 185)

2. Berinteraksi dengan Al-Quran

Sebagaimana telah dijelaskan dalam Al-Quran (QS 2:185), Ramadhan adalah bulan saat diturunkannya Al-Quran, yang menjadi pedoman manusia hidup di dunia ini. Sebagai pedoman, sudah sepatutnya kita harus sering membaca dan memahami al-Qur’an. Imam Az Zuhri pernah berkata: “Apabila datang Ramadhan, maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Quran.” Membaca Al-Quran tentu harus memperhatikan tajwid dan esensi dasar dari diturunkannya Al-Quran untuk direnungkan (tadabbur), dipahami, dan diamalkan.

3. Menuntut Ilmu dan Menyampaikannya

Pada bulan Ramadhan, hati dan pikiran kita dalam keadaan bersih dan jernih, sehingga sangat siap untuk menerima ilmu yang diberikan Allah swt. Waktu-waktu seperti setelah subuh, setelah dzuhur dan menjelang berbuka sangat baik untuk menuntut ilmu.

4. Mencari Lailatul Qadar

Lailatul Qadar adalah malam kemuliaan dan merupakan salah satu keistimewaan yang Allah berikan kepada umat Islam. Malam ini memiliki nilai lebih baik dari seribu bulan. Ketika kita beramal di malam itu berarti seperti beramal dalam seribu bulan. Akan tetapi, malam ini waktunya dirahasiakan Allah swt. Oleh karena itu, Rasulullah saw menganjurkan untuk mencarinya sebagaimana sabdanya: ”Carilah di sepuluh terakhir bulan Ramadhan, dan carilah pada hari kesembilan, ketujuh dan kelima.” Apa yang dimaksud dengan hari kesembilan, ketujuh dan kellima? Nabi Saw berkata: ”Jika sudah lewat 21 hari, maka yang kurang 9 hari, jika sudah 23 yang kurang 7, dan jika sudah lewat 5 hari yang kurang 5.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud dan Al Baihaqi)

5. Shalat Tarawih

Ibadah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah saw di malam Ramadhan adalah Qiyamu Ramadhan, diisi dengan shalat malam atau yang kenal dengan nama shalat Tarawih. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw: “Barangsiapa melakukan qiyam Ramadhan dengan penuh iman dan perhitungan, maka diampuni dosanya yang telah lalu.”

6. Shadaqah, Infak dan Zakat

Sebagaimana tercantum dalam hadist Nabi Saw: “Sebaik-baiknya sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan” (HR Al Baihaqi, Al Khatib dan At Turmidzi). Salah satu bentuk shadaqah yang dianjurkan adalah memberikan santapan untuk berbuka puasa sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa yang memberi makanan kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut” (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

7. Memperbanyak Zikir, Doa dan Istighfar

Zikir, Doa dan Istighfar adalah aktifitas yang sangat penting dan berbobot tinggi, namun ringan untuk dilakukan oleh umat Islam. Kita harus memperbanyak berdoa di bulan Ramadhan karena doa orang yang sedang berpuasa sangat mustajab. Berikut waktu yang mustajab untuk berdoa dan melakukan zikir, termasuk untuk beristighfar:

  • Saat berbuka puasa
  • Sepertiga malam terakhir, yaitu ketika Allah swt turun ke langit dunia dan berkata: “Siapa yang bertaubat? Siapa yang meminta? Siapa yang memanggil? Sampai waktu subuh” (HR Muslim).
  • Waktu sahur
  • Pada hari Jum’at, yaitu di saat-saat terkahir pada sore hari.
  • Duduk untuk zikir, berdoa dan istighfar di masjid setelah menunaikan shalat shubuh sampai terbit matahari. (Choniyu Azwan)
%AM, %01 %158 %2016 %02:%Jun

Keutamaan Bulan Ramadhan

Written by

Ramadhan adalan bulan kesembilan dalam penanggalan Hijriyah (sistem penanggalan Islam). Bulan ini sangat istimewa bagi umat Islam karena terdapat banyak keutamaan di dalamnya. Ibarat petani, bulan Ramadhan adalah bulan saatnya panen raya. Diibaratkan panen raya karena bulan ini merupakan waktu dimana berbagai amal kebaikan dilipatgandakan pahalanya, jauh melebihi waktu-waktu di luar Ramadhan. Berikut beberapa firman Allah SWT dan Sabda Rasulullah SAW tentang keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan:

1. Bulan Pendidikan untuk Mencapai Ketaqwaan

Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertaqwa (QS. Al Baqarah 183)

2. Ramadhan adalah Bulan diturunkannya Al-Quran

Allah SWT berfirman :

“Beberapa hari yang ditentukan itu ialah bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (QS. Al-Baqarah 185)

3. Terdapat Malam yang Penuh Kemuliaan dan Keberkahan (Lailatul Qadar)

Allah SWT berfirman :

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al Qadr 1-3)

Rasulullah SAW juga bersabda:

“Sesungguhnya bulan (Ramadhan) telah datang kepada kalian, di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang tidak mendapatinya, maka ia telah kehilangan banyak sekali kebaikan.“ (diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan dihasankan oleh Al Mundziry )

4. Bulan Pernuh Keberkahan

Rasulullah SAW bersabda:

"Sesungguhnya telah datang kepadamu bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan kamu berpuasa, karena dibuka pintu- pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dibelenggu syaitan- syaitan, serta akan dijumpai suatu malam yang nilainya lebih berharga dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak berhasil memperoleh kebaikannya, sungguh tiadalah ia akan mendapatkan itu untuk selama-lamanya." (HR Ahmad, An-Nasa’i, dan Baihaqi).

5. Ramadhan Bulan Pengampunan Dosa

Rasulullah bersabda:

“Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan ihtisab, maka akan diampuni dosa-dosanya yang lalu.” (HR. Bukhari)

Rasulullah juga bersabda :

“Shalat yang lima waktu, dari Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan, merupakan penghapus dosa di antara mereka, jika dia menjauhi dosa-dosa besar.” (HR. Muslim)

6. Bulan Dilipatgandakanya Amal Shalih

Khutbah Rasululah saw pada akhir bulan Sa'ban:

“Hai manusia, bulan yang agung, bulan yang penuh berkah telah menaungi. Bulan yang di dalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Bulan yang padanya Allah mewajibkan berpuasa. Qiyamul lail disunnahkan. Barang siapa yang pada bulan itu mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebaikan, nilainya seperti orang yang melakukan perbuatan yang diwajibkan pada bulan lainnya. Dan barang siapa yang melakukan suatu kewajiban pada bulan itu,nilainya sama dengan tujuh puluh kali lipat dari kewajiban yang dilakukannya pada bulan lainnya. Keutamaan sedekah adalah sedekah pada bulan Ramadhan.” (HR. Bukhari-Muslim).

7. Dibuka Pintu Surga, Ditutup Pintu Neraka

Rasulullah SAW bersabda:

“Jika datang Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka dan syetan dibelenggu.” (HR. Muslim)

Keutamaan bulan Ramadhan sangat luar biasa. Sudah sepantasnya jika kita mempersiapkan diri menyambut bulan yang agung tersebut dengan persiapan yang cukup, baik fisik, rohani, maupun ilmu agar ibadah yang kita jalankan lebih sempurna dan mendapatkan semua yang dijanjikan Allah SWT. (Choniyu Azwan)

%AM, %01 %143 %2016 %02:%Jun

Persiapan Menyambut Ramadhan

Written by

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia serta bulan tarbiyah, yaitu masa pembinaan untuk mencapai derajat taqwa yang paling tinggi.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS Al Baqarah: 183).

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa.” (QS Al Hujurat: 13).

Predikat taqwa ini tidak mudah untuk diperoleh. Taqwa baru akan diperoleh ketika seseorang melakukan persiapan yang cukup, dan mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan yang baik dan menyikapinya dengan benar. Persiapan Ramadhan antara lain:

1. Persiapan Ruh dan Jasad.

Dengan cara mengondisikan diri agar pada bulan Sya’ban (bulan sebelum Ramadhan) kita telah terbiasa dengan berpuasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat, dan tubuh sudah terlatih berpuasa. Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadhan, kondisi ruh dan iman telah membaik dan selanjutnya dapat langsung menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini dengan amal dan kegiatan yang dianjurkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak fisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang-orang yang pertama kali berpuasa, seperti lemah badan, demam atau panas dingin dan sebagainya.

Rasulullah saw menganjurkan kepada kita agar memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban dengan cara memberikan contoh langsung dan aplikatif .

‘Aisyah radhiyallahu‘anha berkata: ”Rasulullah saw berpuasa, sampai-sampai kami mengiranya tidak pernah meninggalkannya”. (riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa: ”Beliau melakukan puasa sunnah bulan Sya’ban sebulan penuh, lalu beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan”. (Hadits shahih diriwayatkan oleh para ulama hadits. Lihat kitab Riyadhush-Shalihin, Fathul Bari, Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain).

Anjuran tersebut dikuatkan lagi dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya’ban. Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Katanya: ”Ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan yang lain sebanyak puasa di bulan Sya’ban ini?” Beliau menjawab: ”Itulah bulan yang dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan ditingkatkannya amal perbuatan kepada Allah swt Rabbul ‘alamin. Aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa”. (HR An-Nasa’i).

2. Persiapan Materi

Bulan Ramadhan merupakan bulan shadaqah (santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun hanya sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.

Rasulullah saw pada bulan Ramadhan sangat dermawan, sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah saw kepada masyarakat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya.

Hal itu sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu: ”Sungguh, Rasulullah saw saat bertemu dengan malaikat Jibril, lebih dermawan daripada angin yang dilepaskan.” (HR Muttafaqun ‘alaih).

Santunan dan sikap ini sudah tentu tidak dapat dilakukan dengan baik, kecuali jika jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan yang memadai.

3. Persiapan Fikri (persepsi)

Minimal persiapan fikri ini meliputi dua hal, yaitu:

1. Mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadhan dan keutamaan bulan Ramadhan.

2. Dapat memanfaatkan dan mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan yang secara logis dan konkrit mengantarkannya untuk mencapai ketaqwaan. (Choniyu Azwan)

Oleh: Muhammad Adnan Al-Ghifari

Tanggal 1 Oktober merupakan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Salah satu momen yang melepaskan Negara Indonesia dari pemberontakan G30S/PKI yang menewaskan para jenderal terbaik di Indonesia.

Peringatan hari kesaktian Pancasila menurut A. Kardiyat Wiharyanto, Dosen Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta pada dasarnya untuk memperkokoh peran Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa. Sebagai dasar negara, Pancasila memiliki peran strategis sebagai fondasi dasar sebuah negara. Selain itu, Pancasila memiliki makna sebagai pedoman dasar untuk mengatur penyelenggaraan ketatanegaraan yang meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.

Di tengah terpaan pengaruh kekuatan global, kita seharusnya menguatkan dan melengkapi diri agar tidak terjerembab di dalam lika-liku zaman. Salah satunya adalah dengan menggali kembali nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Era globalisasi dan modernisasi merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh semua bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Disadari atau tidak, hal tersebut akan berdampak dalam kehidupan bangsa dan negara. Pada sebagian masyarakat yang memiliki tingkat kedewasaan tinggi, globalisasi akan menjadikan mereka lebih kuat rasa nasionalisme dan patriotismenya. Bahkan, walaupun mereka harus belajar dan bekerja di luar negeri, mereka tetap memegang teguh Pancasila sebagai ideologi bangsa. Tetapi, bagi sebagian lapisan masyarakat yang lain, pengaruh globalisasi dan modernisai sedikit demi sedikit melunturkan rasa nasionalisme dan patriotisme mereka. Disamping karena minimnya pemahaman mereka tentang ideologi Pancasila, juga karena pengaruh ideologi lain yang memaksa mereka kurang memiliki kebanggaan terhadap bangsa dan negara.

Oleh karena itu, peringatan hari kesaktian Pancasila bisa dijadikan kebangkitan bagi kita semua untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan patriotisme yang cenderung mulai luntur. Nilai-nilai itulah yang kemudian kita maknai sebagai ghiroh untuk membangun kembali jati diri bangsa. Bangsa ini bisa berdiri tegak, hanya jika mau kembali menghidupkan dan sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. Pancasila adalah dasar negara dan menjadi sumber hukum yang mengatur masyarakat Indonesia, termasuk kehidupan berpolitik. Karena itu, partai politik sebagai salah satu infrastruktur politik dan segala sesuatu yang hadir dan lahir di negara ini, harus tunduk pada Pancasila.

Fakta sejarah yang hingga saat ini masih diperdebatkan mengenai peristiwa G30S/PKI hendaknya tidak mengubah rasa memiliki kita terhadap Pancasila yang sudah jelas-jelas berperan sebagai simbol pemersatu bangsa. Berbagai peristiwa yang pernah terjadi semenjak Proklamasi 17 Agustus 1945 hingga saat ini, pada akhirnya tidak menggoyahkan Pancasila sebagai dasar negara. Di situ kesaktian Pancasila diuji. []

%AM, %30 %041 %2015 %00:%Sep

Pendidikan dalam Islam

Written by

Pendidikan adalah proses pembelajaran untuk menambah pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pelatihan, penelitian dan lainnya. Semua proses sangat bergantung kepada pendidiknya.

Pendidik memegang peran penting dalam pembentukan karakter. Karena itu, dibutuhkan pendidikan yang ideal dalam Islam. Sedangkan faktor pembawaan dalam mendidik ialah sasaran penting bagi setiap orang yang sedang mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

Adapun hal yang harus diperhatikan tujuan pendidikan yang ideal dalam Islam, antara lain:

  • Melaksanakan pembuktian kepada teori pendidikan Islam karena teori merupakan asumsi dimana konsep pemikiran yang sudah terbukti adanya dan berhubungan dengan hal yang sedang dibicarakan
  • Berperan sebagai bahan pengoreksi pada segala kekurangan teori pendidikan Islam agar bisa berkembang.
  • Untuk memberikan sebuah informasi berkenaan pada pelaksanaan pendidikan untuk segala aspek bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena tidak ada satupun di dunia ini yang tidak dibahas dalam kitab suci Al–Qur'an.

Kalau pendidikan Islam dihubungkan dengan filsafat pendidikan, maka tugasnya adalah menganalisa secara mendalam mengenai masalah pendidikan serta bentuk penyelesaiannya yang empiris dan praktis di dalam masyarakat.

Nantinya akan terjadi interaksi antara ilmu pendidikan Islam dan masyarakat yang saling melengkapi antara satu dengan lainnya. Pendidikan Islam butuh landasan ideal, bersifat rasional, universal serta sistematik mengenai hakikat pendidikan.

Dengan konsep tersebut, pendidikan Islam yang ideal bisa menjadi rujukan segala bidang ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah dan mendasar kepada segala sesuatu, berkaitan dengan ilmu yang ada di dunia. (M. Habib)

Sumber :

http://isma-ismi.com/ilmu-pendidikan-islam.htm
gurukreatif.wordpress.com/2012/01/19/5-karakter-guru-yang-profesional/

%AM, %13 %041 %2015 %00:%Jul

I'tikaf di Bulan Ramadhan

Written by

Oleh: Muhammad Adnan Al Ghifari.

Ramadhan telah memasuki sepuluh hari terakhir, dimana seluruh umat Muslim di dunia melakukan salah satu amalan sunah, yaitu I'tikaf. I'tikaf sangat dianjurkan dilaksanakan setiap waktu di bulan Ramadhan. Banyak orang tahu bahwa i'tikaf adalah berdiam diri di mesjid. Namun berdiam diri seperti apakah i'tikaf itu? Apakah sekadar tafakkur saja? Atau ada hal-hal lain yang harus dilakukan? I'tikaf tidak hanya sekadar berdiam diri saja, bukan berarti seseorang yang berdiam di masjid itu artinya i'tikaf. Ada rukun-rukun yang mensyaratkan hal tersebut dikatakan i'tikaf.

I'tikaf menurut bahasa artinya berdiam diri dan menetap dalam suatu tempat. Sedang pengertian i'tikaf menurut istilah di kalangan para ulama terdapat perbedaan. Al-Hanafiyah (ulama Hanafi) berpendapat i'tikaf adalah berdiam diri di masjid yang biasa dipakai untuk melakukan shalat berjama'ah, dan menurut asy-Syafi'iyyah (ulama Syafi'i) i'tikaf artinya berdiam diri di masjid dengan melaksanakan amalan-amalan tertentu dengan niat karena Allah Swt. Majelis Tarjih dan Tajdid dalam buku Tuntunan Ramadhan menjelaskan I'tikaf adalah aktifitas berdiam diri di masjid dalam satu tempo tertentu dengan melakukan amalan-amalan (ibadah-ibadah) tertentu untuk mengharapkan ridha Allah.

Adapun ayat yang berbicara tentang I'tikaf adalah surah al-Baqarah ayat 125: "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". Ayat ini setidaknya memberi petunjuk bahwa Bait Allah (Kabah) atau masjid-masjid lainnya bukan hanya sebagai tempat shalat tetapi juga sebagai matsabatan. Menurut M. Quraish Shihab, makna kata matsabatan adalah sebagai tempat berkumpul atau tempat berlindung, atau tempat untuk mendapat ganjaran pahala atas segala bentuk ibadah yang dilakukan, haji, umrah, atau ibadah lainnya.

Untuk sahnya i'tikaf diperlukan beberapa syarat, yaitu;

  • Orang yang melaksanakan i'tikaf beragama Islam
  • Orang yang melaksanakan i'tikaf sudah baligh, baik laki-laki maupun perempuan
  • I'tikaf dilaksanakan di masjid, baik masjid jami' maupun masjid biasa
  • Orang yang akan melaksanakan i'tikaf hendaklah memiliki niat i'tikaf
  • Orang yang beri'tikaf tidak disyaratkan puasa. Artinya orang yang tidak berpuasa boleh melakukan i'tikaf

Para ulama sepakat bahwa orang yang melakukan i'tikaf harus tetap berada di dalam masjid tidak keluar dari masjid. Namun demikian bagi mu'takif (orang yang melaksanakan i'tikaf) boleh keluar dari masjid karena beberapa alasan yang dibenarkan, yaitu;

  • karena 'udzrin syar'iyyin (alasan syar'i).
  • karena hajah thabi'iyyah (keperluan hajat manusia), baik yang bersifat naluri maupun yang bukan naluri, seperti buang air besar, kecil, mandi janabah dan lainnya.
  • Karena sesuatu yang sangat darurat, seperti ketika bangunan masjid runtuh dan lainnya.

(Sumber: Guru Mengaji)

Oleh: Muhammad Adnan Al Ghifari

Bulan Ramdhan merupakan bulan suci yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh kaum Muslim di dunia. Di bulan ini kesempatan besar bagi kam Muslimin untuk meningkatkan pahala ibadah dan meminta keridhaan Allah Swt. Ada lima amalan sunnah yang dapat dilakukan di bulan Ramadhan. Semoga dapat membuat kita lebih optimal dalam beribadah.

1. Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan bagi orang yang hendak berpuasa untuk makan sahur. Al Khattabi mengatakan bahwa makan sahur merupakan tanda bahwa agama Islam selalu mendatangkan kemudahan dan tidak mempersulit. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan demikian karena di dalam sahur terdapat keberkahan. Makan sahur juga merupakan pembeda antara puasa kaum Muslimin dengan puasa Yahudi-Nashrani (ahlul kitab).

2. Menyegerakan berbuka dan berbuka dengan kurma jika mudah diperoleh atau dengan air.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita. Berbuka dengan kurma jika mudah diperoleh atau dengan air. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas Ra. Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika berbuka disunnahkan pula untuk berbuka dengan kurma atau dengan air. Jika tidak mendapati kurma, bisa digantikan dengan makan yang manis-manis. Di antara ulama ada yang menjelaskan bahwa dengan makan yang manis-manis (semacam kurma) ketika berbuka itu akan memulihkan kekuatan, sedangkan meminum air akan menyucikan.

3. Berdoa ketika berbuka puasa

Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya doa karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

4. Shalat Tawawih (Qiyam Ramadhan)

Ibadah sunnah yang khas di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih (qiyam ramadhan). Yang paling penting diingat ialah shalat tarawain dapat dilakukan di rumah atau di masjid secara berjamaah. Rasulullah Aaw pernah merasa khawatir karena takut shalat tarawih dianggap menjadi shalat wajib. Semakin hari semakin banyak yang ikut shalat berjamaah di masjid, sehingga beliau akhirnya melaksanakan shalat tarawih sendiri di rumah.

5. I'tikaf

Inilah amaliyah ramadhan yang selalu dilakukan Rasulullah Saw. I'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah Swt. Abu Sa'id Al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah ber i'tikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan paling sering di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Ssbagian umar masih memandang ibadah ini agak berat, jadi belum semua yang mengamalkannya. Hal ini dikomentari oleh Imam Az-Zuhri, "Aneh benar keadaan orang Islam. Mereka meninggalkan i'tikaf, padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat." []

Kisah tragis Angeline menarik perhatian publik di seluruh Indonesia, di tengah korban kekerasan terhadap anak yang masih tinggi di Indonesia. Gadis cilik yang seharusnya menerima kasih sayang dari orang tua angkatnya dan menikmati masa kecilnya harus mengalami nasib yang menyedihkan. Padahal disebutkan dalam suatu hadits:

"Bukanlah termasuk golongan kami, mereka yg tak mengasihi anak-anak kecil kami dan tak pula menghormati orangtua kami, serta tak menyuruh yang ma'ruf dan melarang yang munkar." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan gharib, dan haditsnya Muhammad bin Ishaq dari Amr bin Syu'aib adalah hadits shahih. Telah diriwayatkan pula dari Abdullah bin Amr selain jalur ini. Sebagian Ahlul Ilmi berkata; Makna sabda Nabi, "Bukan dari golongan kami." Maksudnya adalah bukan dari sunnah kami dan tak pula dari adab kami. Dan Ali bin Al Madini berkata: Yahya bin Sa'id berkata, bahwa Sufyan Ats Tsauri mengingkari tafsir ini. Bukan dari golongan kami, maksudnya adalah bukanlah dari millah kami." [HR. Tirmidzi No.1844].

Anak adalah anugerah yang diberikan Allah Ta'ala kepada orangtua. Kehadirannya menjadi penyempurna kebahagiaan yang mulai tercipta. Bahkan, adanya dirinya menjadi penyejuk pandangan dan menimbulkan kegemasan bagi siapa saja yang memandangnya.

Rasulullah Saw pun sangat menyayangi anak–anak. Setiap orang mungkin akan kagum menyaksikan sikap Rasulullah Saw kepada anak-anak. Kekaguman ini akan bertambah ketika melihat besarnya tanggungjawab yang ada di pundak beliau dalam mengatur negara, memimpin pasukan, memberi putusan di antara manusia saat bernegosiasi dengan tamu negara, dan berinteraksi dengan shahabat-shahabatnya. Rasulullah Saw memikirkan masa depan anak yatim. Beliau tidak khawatir hartanya akan berkurang dengan adanya kewajiban zakat atau berkurang nilainya karena adanya inflasi dalam waktu yang cukup lama.

Menyayangi anak tidak hanya bagi orangtua terhadap anaknya saja, tapi kita sebagai Muslimin yang baik dapat menyayangi anak-anak di sekitar kita, seperti adik, sepupu dan anak-anak yang belum baligh lainnya. Anak yang belum baligh adalah insan yang masih bersih dari dosa. Setiap tingkah laku yang dikerjakan anak sebenarnya adalah hasil dari "meniru" orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya. Bisa jadi meniru orang tua, tetangga, atau mungkin kawan bermain dalam kesehariannya. Oleh karenanya, diangkatlah pena catatan amal atas diri-diri mereka.

Sesungguhnya orang yang berfikir dan bersemangat untuk membuat kebaikan pada dirinya sendiri akan berusaha agar rasa kasih sayang itu menjadi akhlaq dan kepribadiannya, agar mendapatkan rahmat Allah dan kasih sayang sesama manusia. Barang siapa yang menyayangi ia akan disayangi, dan sebaliknya; barang siapa yang tidak menyayangi maka tidak disayangi. (Muhammad Adnan Al Ghifari)

%AM, %29 %041 %2015 %00:%Jun

Sosok Seorang Ayah

Written by

Hari Ayah Sedunia jatuh pada tanggal 21 Juni, Hampir seluruh masyarakat di belahan bumi pun turut memperingati Father's Day. Setiap keluarga tentu memiliki cerita yang berbeda tentang sosok ayahnya. Ada yang merasa sosok ayahnya tidak pernah menghargainya. Ada yang menganggap ayahnya terlalu keras dalam mendidik. Ada juga yang memiliki seorang ayah yang acuh terhadap nasib keluarganya. Namun, tidak sedikit yang merasakan kepuasan melihat sosok ayahnya yang pengertian, penuh dedikasi, berwawasan luas, dan memiliki peran besar di luar rumahnya. Rangkaian kisah ini pada dasarnya bermuara pada satu hal, yaitu berharap agar anak-anak dan istrinya mendapatkan kebahagiaan.

"Birrul walidain" adalah berbuat baik dan bakti kepada orangtua dengan memenuhi hak-hak kedua orangtua serta menaati perintah keduanya selama tidak melanggar syariat. Lawan katanya ialah "Aqqul walidain", yaitu durhaka kepada orangtua dengan melakukan apa yang menyakiti keduanya dengan berbuat jahat baik melalui perkataan ataupun perbuatan serta meninggalkan kebaikan kepada keduanya.

Kedua orangtua secara fitrah akan terdorong untuk mengayomi anak-anaknya; mengorbankan segala hal, termasuk diri sendiri. Seperti halnya tunas hijau menghisap setiap nutrisi dalam benih hingga hancur luluh; seperti anak burung yang menghisap setiap nutrisi yang ada dalam telor hingga tinggal cangkangnya, demikian pula anak-anak menghisap seluruh potensi, kesehatan, tenaga dan perhatian dari kedua orang tua, hingga ia menjadi orang tua yang lemah jika memang diberi usia yang panjang. Meski demikian, keduanya tetap merasa bahagia!

Adapun anak-anak, secepatnya mereka melupakan itu semua, dan terdorong oleh peran mereka ke arah depan. Kepada istri dan keluarga. Demikianlah kehidupan itu terdorong. Dari sini, orangtua tidak butuh nasihat untuk berbuat baik kepada anak-anak. Yang perlu digugah emosinya dengan kuat adalah anak-anak, agar mereka mengingat kewajiban terhadap generasi yang telah menghabiskan seluruh madunya hingga kering kerontang!

Dari situ muncul perintah Allah Ta'ala untuk berbuat baik kepada kedua orangtua dalam bentuk qadha dari Allah yang mengandung arti perintah yang tegas, setelah perintah yang tegas untuk menyembah Allah Azza wa Jalla.

Sebaiknya kita menyadari bahwa berbakti bukan hanya kepada ibu, ayahpun memiliki hak yang besar untuk kita berbakti. Semoga Allah Swt menjadikan kita anak-anak yang berbakti, dan menjadikan anak-anak kita kelak juga berbakti kepada kita. (Muhammad Adnan Al Ghifari)