Kisah dan Curhat

Kisah dan Curhat (111)

%AM, %01 %143 %2016 %02:%Jun

Persiapan Menyambut Ramadhan

Written by

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat mulia serta bulan tarbiyah, yaitu masa pembinaan untuk mencapai derajat taqwa yang paling tinggi.

Sebagaimana dijelaskan dalam Al Quran: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa.” (QS Al Baqarah: 183).

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah yang paling bertaqwa.” (QS Al Hujurat: 13).

Predikat taqwa ini tidak mudah untuk diperoleh. Taqwa baru akan diperoleh ketika seseorang melakukan persiapan yang cukup, dan mengisi bulan Ramadhan dengan berbagai kegiatan yang baik dan menyikapinya dengan benar. Persiapan Ramadhan antara lain:

1. Persiapan Ruh dan Jasad.

Dengan cara mengondisikan diri agar pada bulan Sya’ban (bulan sebelum Ramadhan) kita telah terbiasa dengan berpuasa. Sehingga kondisi ruhiyah imaniyah meningkat, dan tubuh sudah terlatih berpuasa. Dengan kondisi seperti ini, maka ketika kita memasuki bulan Ramadhan, kondisi ruh dan iman telah membaik dan selanjutnya dapat langsung menyambut bulan Ramadhan yang mulia ini dengan amal dan kegiatan yang dianjurkan. Di sisi lain, tidak akan terjadi lagi gejolak fisik dan proses penyesuaian yang kadang-kadang dirasakan oleh orang-orang yang pertama kali berpuasa, seperti lemah badan, demam atau panas dingin dan sebagainya.

Rasulullah saw menganjurkan kepada kita agar memperbanyak puasa sunnah pada bulan Sya’ban dengan cara memberikan contoh langsung dan aplikatif .

‘Aisyah radhiyallahu‘anha berkata: ”Rasulullah saw berpuasa, sampai-sampai kami mengiranya tidak pernah meninggalkannya”. (riwayat Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa: ”Beliau melakukan puasa sunnah bulan Sya’ban sebulan penuh, lalu beliau sambung bulan itu dengan Ramadhan”. (Hadits shahih diriwayatkan oleh para ulama hadits. Lihat kitab Riyadhush-Shalihin, Fathul Bari, Sunan At-Tirmidzi dan lain-lain).

Anjuran tersebut dikuatkan lagi dengan menyebutkan keutamaan bulan Sya’ban. Usamah bin Zaid pernah bertanya kepada Rasulullah saw. Katanya: ”Ya Rasulullah, saya tidak melihat engkau berpuasa pada bulan-bulan yang lain sebanyak puasa di bulan Sya’ban ini?” Beliau menjawab: ”Itulah bulan yang dilupakan orang, antara Rajab dan Ramadhan, bulan ditingkatkannya amal perbuatan kepada Allah swt Rabbul ‘alamin. Aku ingin amalku diangkat sedang aku dalam keadaan berpuasa”. (HR An-Nasa’i).

2. Persiapan Materi

Bulan Ramadhan merupakan bulan shadaqah (santunan). Sangat dianjurkan memberi santunan kepada orang lain, betapapun kecilnya. Pahala yang sangat besar akan didapat oleh orang yang tidak punya, manakala ia memberi kepada orang lain yang berpuasa, sekalipun hanya sebuah kurma, seteguk air atau sesendok mentega.

Rasulullah saw pada bulan Ramadhan sangat dermawan, sangat pemurah. Digambarkan bahwa sentuhan kebaikan dan santunan Rasulullah saw kepada masyarakat sampai merata, lebih merata ketimbang sentuhan angin terhadap benda-benda di sekitarnya.

Hal itu sebagaimana diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu: ”Sungguh, Rasulullah saw saat bertemu dengan malaikat Jibril, lebih dermawan daripada angin yang dilepaskan.” (HR Muttafaqun ‘alaih).

Santunan dan sikap ini sudah tentu tidak dapat dilakukan dengan baik, kecuali jika jauh sebelum Ramadhan telah ada persiapan-persiapan yang memadai.

3. Persiapan Fikri (persepsi)

Minimal persiapan fikri ini meliputi dua hal, yaitu:

1. Mempunyai persepsi yang utuh tentang Ramadhan dan keutamaan bulan Ramadhan.

2. Dapat memanfaatkan dan mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan-kegiatan yang secara logis dan konkrit mengantarkannya untuk mencapai ketaqwaan. (Choniyu Azwan)

Oleh: Muhammad Adnan Al-Ghifari

Tanggal 1 Oktober merupakan peringatan Hari Kesaktian Pancasila. Salah satu momen yang melepaskan Negara Indonesia dari pemberontakan G30S/PKI yang menewaskan para jenderal terbaik di Indonesia.

Peringatan hari kesaktian Pancasila menurut A. Kardiyat Wiharyanto, Dosen Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta pada dasarnya untuk memperkokoh peran Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa. Sebagai dasar negara, Pancasila memiliki peran strategis sebagai fondasi dasar sebuah negara. Selain itu, Pancasila memiliki makna sebagai pedoman dasar untuk mengatur penyelenggaraan ketatanegaraan yang meliputi bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya serta pertahanan dan keamanan.

Di tengah terpaan pengaruh kekuatan global, kita seharusnya menguatkan dan melengkapi diri agar tidak terjerembab di dalam lika-liku zaman. Salah satunya adalah dengan menggali kembali nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila. Era globalisasi dan modernisasi merupakan konsekuensi yang harus diterima oleh semua bangsa di dunia, termasuk Indonesia. Disadari atau tidak, hal tersebut akan berdampak dalam kehidupan bangsa dan negara. Pada sebagian masyarakat yang memiliki tingkat kedewasaan tinggi, globalisasi akan menjadikan mereka lebih kuat rasa nasionalisme dan patriotismenya. Bahkan, walaupun mereka harus belajar dan bekerja di luar negeri, mereka tetap memegang teguh Pancasila sebagai ideologi bangsa. Tetapi, bagi sebagian lapisan masyarakat yang lain, pengaruh globalisasi dan modernisai sedikit demi sedikit melunturkan rasa nasionalisme dan patriotisme mereka. Disamping karena minimnya pemahaman mereka tentang ideologi Pancasila, juga karena pengaruh ideologi lain yang memaksa mereka kurang memiliki kebanggaan terhadap bangsa dan negara.

Oleh karena itu, peringatan hari kesaktian Pancasila bisa dijadikan kebangkitan bagi kita semua untuk meningkatkan rasa nasionalisme dan patriotisme yang cenderung mulai luntur. Nilai-nilai itulah yang kemudian kita maknai sebagai ghiroh untuk membangun kembali jati diri bangsa. Bangsa ini bisa berdiri tegak, hanya jika mau kembali menghidupkan dan sekaligus mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. Pancasila adalah dasar negara dan menjadi sumber hukum yang mengatur masyarakat Indonesia, termasuk kehidupan berpolitik. Karena itu, partai politik sebagai salah satu infrastruktur politik dan segala sesuatu yang hadir dan lahir di negara ini, harus tunduk pada Pancasila.

Fakta sejarah yang hingga saat ini masih diperdebatkan mengenai peristiwa G30S/PKI hendaknya tidak mengubah rasa memiliki kita terhadap Pancasila yang sudah jelas-jelas berperan sebagai simbol pemersatu bangsa. Berbagai peristiwa yang pernah terjadi semenjak Proklamasi 17 Agustus 1945 hingga saat ini, pada akhirnya tidak menggoyahkan Pancasila sebagai dasar negara. Di situ kesaktian Pancasila diuji. []

%AM, %30 %041 %2015 %00:%Sep

Pendidikan dalam Islam

Written by

Pendidikan adalah proses pembelajaran untuk menambah pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pelatihan, penelitian dan lainnya. Semua proses sangat bergantung kepada pendidiknya.

Pendidik memegang peran penting dalam pembentukan karakter. Karena itu, dibutuhkan pendidikan yang ideal dalam Islam. Sedangkan faktor pembawaan dalam mendidik ialah sasaran penting bagi setiap orang yang sedang mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

Adapun hal yang harus diperhatikan tujuan pendidikan yang ideal dalam Islam, antara lain:

  • Melaksanakan pembuktian kepada teori pendidikan Islam karena teori merupakan asumsi dimana konsep pemikiran yang sudah terbukti adanya dan berhubungan dengan hal yang sedang dibicarakan
  • Berperan sebagai bahan pengoreksi pada segala kekurangan teori pendidikan Islam agar bisa berkembang.
  • Untuk memberikan sebuah informasi berkenaan pada pelaksanaan pendidikan untuk segala aspek bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena tidak ada satupun di dunia ini yang tidak dibahas dalam kitab suci Al–Qur'an.

Kalau pendidikan Islam dihubungkan dengan filsafat pendidikan, maka tugasnya adalah menganalisa secara mendalam mengenai masalah pendidikan serta bentuk penyelesaiannya yang empiris dan praktis di dalam masyarakat.

Nantinya akan terjadi interaksi antara ilmu pendidikan Islam dan masyarakat yang saling melengkapi antara satu dengan lainnya. Pendidikan Islam butuh landasan ideal, bersifat rasional, universal serta sistematik mengenai hakikat pendidikan.

Dengan konsep tersebut, pendidikan Islam yang ideal bisa menjadi rujukan segala bidang ilmu pengetahuan yang bersifat ilmiah dan mendasar kepada segala sesuatu, berkaitan dengan ilmu yang ada di dunia. (M. Habib)

Sumber :

http://isma-ismi.com/ilmu-pendidikan-islam.htm
gurukreatif.wordpress.com/2012/01/19/5-karakter-guru-yang-profesional/

%AM, %13 %041 %2015 %00:%Jul

I'tikaf di Bulan Ramadhan

Written by

Oleh: Muhammad Adnan Al Ghifari.

Ramadhan telah memasuki sepuluh hari terakhir, dimana seluruh umat Muslim di dunia melakukan salah satu amalan sunah, yaitu I'tikaf. I'tikaf sangat dianjurkan dilaksanakan setiap waktu di bulan Ramadhan. Banyak orang tahu bahwa i'tikaf adalah berdiam diri di mesjid. Namun berdiam diri seperti apakah i'tikaf itu? Apakah sekadar tafakkur saja? Atau ada hal-hal lain yang harus dilakukan? I'tikaf tidak hanya sekadar berdiam diri saja, bukan berarti seseorang yang berdiam di masjid itu artinya i'tikaf. Ada rukun-rukun yang mensyaratkan hal tersebut dikatakan i'tikaf.

I'tikaf menurut bahasa artinya berdiam diri dan menetap dalam suatu tempat. Sedang pengertian i'tikaf menurut istilah di kalangan para ulama terdapat perbedaan. Al-Hanafiyah (ulama Hanafi) berpendapat i'tikaf adalah berdiam diri di masjid yang biasa dipakai untuk melakukan shalat berjama'ah, dan menurut asy-Syafi'iyyah (ulama Syafi'i) i'tikaf artinya berdiam diri di masjid dengan melaksanakan amalan-amalan tertentu dengan niat karena Allah Swt. Majelis Tarjih dan Tajdid dalam buku Tuntunan Ramadhan menjelaskan I'tikaf adalah aktifitas berdiam diri di masjid dalam satu tempo tertentu dengan melakukan amalan-amalan (ibadah-ibadah) tertentu untuk mengharapkan ridha Allah.

Adapun ayat yang berbicara tentang I'tikaf adalah surah al-Baqarah ayat 125: "Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". Ayat ini setidaknya memberi petunjuk bahwa Bait Allah (Kabah) atau masjid-masjid lainnya bukan hanya sebagai tempat shalat tetapi juga sebagai matsabatan. Menurut M. Quraish Shihab, makna kata matsabatan adalah sebagai tempat berkumpul atau tempat berlindung, atau tempat untuk mendapat ganjaran pahala atas segala bentuk ibadah yang dilakukan, haji, umrah, atau ibadah lainnya.

Untuk sahnya i'tikaf diperlukan beberapa syarat, yaitu;

  • Orang yang melaksanakan i'tikaf beragama Islam
  • Orang yang melaksanakan i'tikaf sudah baligh, baik laki-laki maupun perempuan
  • I'tikaf dilaksanakan di masjid, baik masjid jami' maupun masjid biasa
  • Orang yang akan melaksanakan i'tikaf hendaklah memiliki niat i'tikaf
  • Orang yang beri'tikaf tidak disyaratkan puasa. Artinya orang yang tidak berpuasa boleh melakukan i'tikaf

Para ulama sepakat bahwa orang yang melakukan i'tikaf harus tetap berada di dalam masjid tidak keluar dari masjid. Namun demikian bagi mu'takif (orang yang melaksanakan i'tikaf) boleh keluar dari masjid karena beberapa alasan yang dibenarkan, yaitu;

  • karena 'udzrin syar'iyyin (alasan syar'i).
  • karena hajah thabi'iyyah (keperluan hajat manusia), baik yang bersifat naluri maupun yang bukan naluri, seperti buang air besar, kecil, mandi janabah dan lainnya.
  • Karena sesuatu yang sangat darurat, seperti ketika bangunan masjid runtuh dan lainnya.

(Sumber: Guru Mengaji)

Oleh: Muhammad Adnan Al Ghifari

Bulan Ramdhan merupakan bulan suci yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh kaum Muslim di dunia. Di bulan ini kesempatan besar bagi kam Muslimin untuk meningkatkan pahala ibadah dan meminta keridhaan Allah Swt. Ada lima amalan sunnah yang dapat dilakukan di bulan Ramadhan. Semoga dapat membuat kita lebih optimal dalam beribadah.

1. Mengakhirkan Sahur

Disunnahkan bagi orang yang hendak berpuasa untuk makan sahur. Al Khattabi mengatakan bahwa makan sahur merupakan tanda bahwa agama Islam selalu mendatangkan kemudahan dan tidak mempersulit. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan demikian karena di dalam sahur terdapat keberkahan. Makan sahur juga merupakan pembeda antara puasa kaum Muslimin dengan puasa Yahudi-Nashrani (ahlul kitab).

2. Menyegerakan berbuka dan berbuka dengan kurma jika mudah diperoleh atau dengan air.

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan shalat Maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat Maghrib selesai dikerjakan. Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita. Berbuka dengan kurma jika mudah diperoleh atau dengan air. Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Anas Ra. Hadits tersebut menunjukkan bahwa ketika berbuka disunnahkan pula untuk berbuka dengan kurma atau dengan air. Jika tidak mendapati kurma, bisa digantikan dengan makan yang manis-manis. Di antara ulama ada yang menjelaskan bahwa dengan makan yang manis-manis (semacam kurma) ketika berbuka itu akan memulihkan kekuatan, sedangkan meminum air akan menyucikan.

3. Berdoa ketika berbuka puasa

Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya doa karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri.

4. Shalat Tawawih (Qiyam Ramadhan)

Ibadah sunnah yang khas di bulan Ramadhan adalah shalat tarawih (qiyam ramadhan). Yang paling penting diingat ialah shalat tarawain dapat dilakukan di rumah atau di masjid secara berjamaah. Rasulullah Aaw pernah merasa khawatir karena takut shalat tarawih dianggap menjadi shalat wajib. Semakin hari semakin banyak yang ikut shalat berjamaah di masjid, sehingga beliau akhirnya melaksanakan shalat tarawih sendiri di rumah.

5. I'tikaf

Inilah amaliyah ramadhan yang selalu dilakukan Rasulullah Saw. I'tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat beribadah kepada Allah Swt. Abu Sa'id Al-Khudri meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw pernah ber i'tikaf pada awal Ramadhan, pertengahan Ramadhan, dan paling sering di 10 hari terakhir bulan Ramadhan.

Ssbagian umar masih memandang ibadah ini agak berat, jadi belum semua yang mengamalkannya. Hal ini dikomentari oleh Imam Az-Zuhri, "Aneh benar keadaan orang Islam. Mereka meninggalkan i'tikaf, padahal Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak beliau datang ke Madinah sampai beliau wafat." []

Kisah tragis Angeline menarik perhatian publik di seluruh Indonesia, di tengah korban kekerasan terhadap anak yang masih tinggi di Indonesia. Gadis cilik yang seharusnya menerima kasih sayang dari orang tua angkatnya dan menikmati masa kecilnya harus mengalami nasib yang menyedihkan. Padahal disebutkan dalam suatu hadits:

"Bukanlah termasuk golongan kami, mereka yg tak mengasihi anak-anak kecil kami dan tak pula menghormati orangtua kami, serta tak menyuruh yang ma'ruf dan melarang yang munkar." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan gharib, dan haditsnya Muhammad bin Ishaq dari Amr bin Syu'aib adalah hadits shahih. Telah diriwayatkan pula dari Abdullah bin Amr selain jalur ini. Sebagian Ahlul Ilmi berkata; Makna sabda Nabi, "Bukan dari golongan kami." Maksudnya adalah bukan dari sunnah kami dan tak pula dari adab kami. Dan Ali bin Al Madini berkata: Yahya bin Sa'id berkata, bahwa Sufyan Ats Tsauri mengingkari tafsir ini. Bukan dari golongan kami, maksudnya adalah bukanlah dari millah kami." [HR. Tirmidzi No.1844].

Anak adalah anugerah yang diberikan Allah Ta'ala kepada orangtua. Kehadirannya menjadi penyempurna kebahagiaan yang mulai tercipta. Bahkan, adanya dirinya menjadi penyejuk pandangan dan menimbulkan kegemasan bagi siapa saja yang memandangnya.

Rasulullah Saw pun sangat menyayangi anak–anak. Setiap orang mungkin akan kagum menyaksikan sikap Rasulullah Saw kepada anak-anak. Kekaguman ini akan bertambah ketika melihat besarnya tanggungjawab yang ada di pundak beliau dalam mengatur negara, memimpin pasukan, memberi putusan di antara manusia saat bernegosiasi dengan tamu negara, dan berinteraksi dengan shahabat-shahabatnya. Rasulullah Saw memikirkan masa depan anak yatim. Beliau tidak khawatir hartanya akan berkurang dengan adanya kewajiban zakat atau berkurang nilainya karena adanya inflasi dalam waktu yang cukup lama.

Menyayangi anak tidak hanya bagi orangtua terhadap anaknya saja, tapi kita sebagai Muslimin yang baik dapat menyayangi anak-anak di sekitar kita, seperti adik, sepupu dan anak-anak yang belum baligh lainnya. Anak yang belum baligh adalah insan yang masih bersih dari dosa. Setiap tingkah laku yang dikerjakan anak sebenarnya adalah hasil dari "meniru" orang-orang dewasa yang ada di sekitarnya. Bisa jadi meniru orang tua, tetangga, atau mungkin kawan bermain dalam kesehariannya. Oleh karenanya, diangkatlah pena catatan amal atas diri-diri mereka.

Sesungguhnya orang yang berfikir dan bersemangat untuk membuat kebaikan pada dirinya sendiri akan berusaha agar rasa kasih sayang itu menjadi akhlaq dan kepribadiannya, agar mendapatkan rahmat Allah dan kasih sayang sesama manusia. Barang siapa yang menyayangi ia akan disayangi, dan sebaliknya; barang siapa yang tidak menyayangi maka tidak disayangi. (Muhammad Adnan Al Ghifari)

%AM, %29 %041 %2015 %00:%Jun

Sosok Seorang Ayah

Written by

Hari Ayah Sedunia jatuh pada tanggal 21 Juni, Hampir seluruh masyarakat di belahan bumi pun turut memperingati Father's Day. Setiap keluarga tentu memiliki cerita yang berbeda tentang sosok ayahnya. Ada yang merasa sosok ayahnya tidak pernah menghargainya. Ada yang menganggap ayahnya terlalu keras dalam mendidik. Ada juga yang memiliki seorang ayah yang acuh terhadap nasib keluarganya. Namun, tidak sedikit yang merasakan kepuasan melihat sosok ayahnya yang pengertian, penuh dedikasi, berwawasan luas, dan memiliki peran besar di luar rumahnya. Rangkaian kisah ini pada dasarnya bermuara pada satu hal, yaitu berharap agar anak-anak dan istrinya mendapatkan kebahagiaan.

"Birrul walidain" adalah berbuat baik dan bakti kepada orangtua dengan memenuhi hak-hak kedua orangtua serta menaati perintah keduanya selama tidak melanggar syariat. Lawan katanya ialah "Aqqul walidain", yaitu durhaka kepada orangtua dengan melakukan apa yang menyakiti keduanya dengan berbuat jahat baik melalui perkataan ataupun perbuatan serta meninggalkan kebaikan kepada keduanya.

Kedua orangtua secara fitrah akan terdorong untuk mengayomi anak-anaknya; mengorbankan segala hal, termasuk diri sendiri. Seperti halnya tunas hijau menghisap setiap nutrisi dalam benih hingga hancur luluh; seperti anak burung yang menghisap setiap nutrisi yang ada dalam telor hingga tinggal cangkangnya, demikian pula anak-anak menghisap seluruh potensi, kesehatan, tenaga dan perhatian dari kedua orang tua, hingga ia menjadi orang tua yang lemah jika memang diberi usia yang panjang. Meski demikian, keduanya tetap merasa bahagia!

Adapun anak-anak, secepatnya mereka melupakan itu semua, dan terdorong oleh peran mereka ke arah depan. Kepada istri dan keluarga. Demikianlah kehidupan itu terdorong. Dari sini, orangtua tidak butuh nasihat untuk berbuat baik kepada anak-anak. Yang perlu digugah emosinya dengan kuat adalah anak-anak, agar mereka mengingat kewajiban terhadap generasi yang telah menghabiskan seluruh madunya hingga kering kerontang!

Dari situ muncul perintah Allah Ta'ala untuk berbuat baik kepada kedua orangtua dalam bentuk qadha dari Allah yang mengandung arti perintah yang tegas, setelah perintah yang tegas untuk menyembah Allah Azza wa Jalla.

Sebaiknya kita menyadari bahwa berbakti bukan hanya kepada ibu, ayahpun memiliki hak yang besar untuk kita berbakti. Semoga Allah Swt menjadikan kita anak-anak yang berbakti, dan menjadikan anak-anak kita kelak juga berbakti kepada kita. (Muhammad Adnan Al Ghifari)

%AM, %17 %041 %2015 %00:%Jun

Senyum

Written by

Tersenyum ialah salah satu bentuk dari nikmat yang Allah Swt berikan pada kita sebagai umat manusia. Biasanya tersenyum terjadi, apabila dalam keadaan suasana hati yang sedang senang dan gembira. Tersenyum itu manusiawi tidak ada orang yang belum pernah tersenyum sama sekali di dunia ini, setiap orang pasti pernah melakukannya walau itu hanya satu kali. Lantas apa saja manfaat jika kita tersenyum?

Senyum membuat kita jadi berfikir positif

Senyum dapat membuat kita jadi berfikir positif karena dengan tersenyum kita dapat melepas segala beban yang bersifat negatif. Dengan melepaskan segala sesuatu yang negatif, kita cenderung bersikap terbuka dan berjiwa lapang. Jika sudah berfikir positif, kita dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tenang dan tanpa kendala.

Senyum dapat mengubah perasaan orang lain

Senyum dapat mengubah perasaan orang lain. Jika kita menyapa seseorang yang sedang dalam kondisi perasaan kurang baik, dengan tersenyum maka hal itu akan banyak membantu mencairkan setiap ketegangan atau kekakuan yang ada. Pastinya, kita dapat menyenangkan hati seseorang walau dengan senyuman.

Bagaimana dengan kontesk dalam agama ?

Senyum itu sedekah

Bayangkan, seandanya kita tidak bisa tersenyum setiap hari, maka yang kelihatan dicwajah kita ialah kekakuan yang sangat tidak enak dipandang. Maka, Allah Swt menjadikan senyum kita sebagai hiasan yang indah di wajah. Bahkan, Rasulullah saw menyebutkan bahwa senyumnya orang Mukmin ialah sedekah.

Dari Abu Dzarr ra, dia berkata, Rasulullah Saw bersabda, "Senyummu kepada saudaramu merupakan sedekah, engkau memerintahkan yang ma'ruf dan melarang dari kemungkaran juga sedekah, engkau menunjukkan jalan kepada orang yang tersesat juga sedekah, engkau menuntun orang yang berpenglihatan kabur juga sedekah, menyingkirkan batu, duri, dan tulang dari jalan merupakan sedekah, dan engkau menuangkan air dari embermu ke ember saudaramu juga sedekah." (HR. Tirmidzi)

Tanda Syukur

Senyum merupakan tanda syukur kita kepada Allah Swt. Sebagaimana senyum yang dilakukan Nabi Adam As ketika ditiupkan roh oleh Allah Swt, maka Nabi Adam mengucapkan: "Allhamdulillah, sambil tersenyum". Tidak ada ruginya kita memberikan senyum kepada orang lain. Kadang senyuman di waktu susah itu sangat sulit, tapi itu tanda sebuah kesabaran dalam menjalani kesulitan yang dihadapi. Maka, jangan takut untuk ternyenyum. (Muh. Habib)

Tabzir menurut bahasa arab disebut bazzara, yubazziru, tabziran yang artinya menggunakan atau membelanjakan harta kepada hal yang tidak perlu atau disebut boros. Secara istilah boros yang dimaksudkan Tabzir adalah mempergunakan sesuatu secara berlebih lebihan dengan tidak mempertimbangkan kadar kecukupan sehingga menimbulkan kesia-siaan .

Firman allah :

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. (Q.S. Al –Isra [17]: 26 )

Allah swt telah memberikan kita nikmat yang sangat berlimpah dan tak terhitung jumlahnya, Allah juga telah memerintahkan hambanya untuk bersyukur atas nikmat yang telah di berikan. Tidak sedikit dalam ayat Alqur'an yang mengajarkan kepada kita untuk bersyukur dan juga sebaliknya ada banyak ayat dari Alqur'an yang mengecam orang-orang yang kufur akan nikmat yang sudah di berikan.

Bentuk syukur terbesar adalah memanfaatkan nikmat Allah yang begitu banyak secara tepat dan berguna bagi orang lain dan syukur yang terendah ialah cukup dengan ucapan lisan. Allah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk menunaikan kewajiban terkait dengan harta yang dikuasainya, yaitu memenuhi hak keluarga terdekat, orang miskin dan orang yang sedang dalam perjalanan. Islam juga mengajarkan pada umatnya untuk memiliki kepedulian sosial sebagai dasar terciptanya keharmonisan bermasyarakat.

Allah telah melarang kaum muslimin untuk mencari kekayaan dengan cara yang batil dan juga melarang membelanjakan harta yang ia punya secara boros. Boros merupakan prilaku syetan yang harus kita hindari sebagai kaum muslimin dalam berbagi situasi dan keadaan.

Sikap boros akan menimbulkan kesengsaraan di dunia dan akhirat kelak. Adapun persamaan syetan dengan pemborosan adalah sama-sama ingkar terhadap nikmat Allah swt. Orang yang di limpahkan harta kekayaan harus di gunakan di jalan yang di ridhoi Allah swt.

Jadi, gunakan harta yang kita punya untuk kepentingan yang di benarkan dalam agama dan juga tidak melebihi batas apa yang kita butuhkan karna harta yang kita punya akan di pertanggung jawabakan di akhirat kelak. (Muhammad Habib)

%AM, %28 %041 %2015 %00:%Apr

Persatuan

Written by

Pesatuan dalam bahasa Arab disebut dengan istilah "Ittihad". Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, persatuan dapat diartikan gabungan (ikatan atau kumpulan) beberapa bagian yang telah bersatu. Secara istilah, persatuan sebagai bentuk kecenderungan asasi manusia selaku makhluk sosial yang diaktualisasikan dalam bentuk kegiatan.

Melakukan pengelompokan dengan sesama manusia menurut pertimbangan kebutuhan atau ikatan tertentu dalam mencapai suatu tujuan. Karena itu, manusia dalam berbagai zaman dan tingkat peradabannya, memiliki tabiat untuk bersatu atau berkelompok dengan sesama manusia demi memenuhi hajat (keperluan) dalam hidupnya.

Sebenarnya Al-Quran tidak mengharuskan penyatuan seluruh umat Islam ke dalam suatu wadah kenegaraan, karena Allah Ta'ala menciptakan manusia dari satu keturunan dan bersuku-suku (demikian juga rumpun dan ras manusia) agar mereka saling mengenal dan saling memanfaatkan potensi masing-masing demi kepentingan bersama. Akibat selanjutnya, tidak timbul perecahan dan kesalapahaman antara umat manusia.

Rasulullah Saw, dalam strategi dakwah dan juga pola dakwah, telah menjadikan persatuan umat sebagai modal besar kesuksesan kaum Muslimin di berbagai bidang. Persatuan umat yang direkatkan oleh rasa kasih sayang antara sesama yang telah disatukan dalam persaudaraan. Ayatullah Shirazi dalam tafsirnya mengutip beberapa pendapat para ahli dari Barat yang menyatakan bahwa bangsa Arab telah keluar dari persoalan kelaparan dan kemiskinan dengan nilai persatuan yang dibawa Rasulullah Saw.

Selanjutnya Nabi Muhammad Saw mengisyaratkan pentingnya persatuan tersebut untuk masa depan umat Islam. Abu Syuraih Al-Khuza'i berkata: Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada di tengah-tengah kami, beliau bersabda: "Kabar gembira buat kalian, apakah kalian bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq selain Allah dan aku adalah utusan-Nya?" Para sahabat menjawab: "Benar". Kemudian Rasulullah'bersabda: "Sesungguhnya Al-Qur'an ini adalah perantara (tali), salah satu ujung talinya berada di sisi Allah dan ujung lainnya ada di tengah-tengah kalian, maka berpegang teguhlah padanya, sungguh kalian tidak sesat dan binasa jika berpegang teguh padanya (Al-Qur'an)." (Shahih Ibnu Hibban, 12/165).

Hadits itu menunjukan keistimewaan persatuan bagi kita sesama umat Muslim. Alangkah baiknya kita saling menghargai untuk tercapainya persatuan umat di zaman sekarang yang serba cepat ini. (Muhammad Habib)