Senin, 04 Maret 2019 05:05

Komputer Mini Untuk Internet of Thing

Komputer mini sekarang sangat banyak tersedia, bahkan kita bisa membuat komputer mini tersebut untuk keperluan sehari-hari, berbagai kebutuhan pun dapat diselesaikan dengan komputer berbasis Internet ini. Namun harga dari komputer mini tersebut sangatlah mahal, seperti Raspberry Pi senilai 25$--lumayan mahal untuk anak kuliah. Namun kini telah hadir komputer mini yang dinamakan “Omega 2”, komputer Mini berbasis Linux yang bisa di beli dengan harga 5$ saja.
 
Onion, merek yang cukup terkenal di bidang IoT, telah mengeluarkan produk Omega dengan biaya 19$, dan kini Onion baru saja mengumumkan versi terbarunya yaitu Omega 2 dengan biaya hanya 5$ saja, perangkat kecil ini bertujunan untuk mengembangkan produk-produk berbasis IoT. Onion pernah mengembangkan modul Omega dengan harga $25 dan mereka ‘pasarkan’ melalui Kickstarter. Sangat sukses! Mereka mendapatkan $267.851 dari 4.459 backer. Mengikuti kesuksesan proyek pertamanya, Onion membangun Omega2, komputer mini dengan hanya berharga $5. Saat kabar ini ditulis, Omega 2 sudah mendapatkan 60.610 dollar dari 1.618 backer.

 

Ukuran Omega 2 benar-benar sangat kecil yakni 1/4 lebih kecil dibanding Raspberry Pi dan 1/3 lebih kecil dibanding Arduino Uno. Omega2 merupakan komputer mini yang sudah membawa sistem operasi GNU/Linux, memiliki perangkat Wi-Fi 802.11b/g/n, dan ruang penyimpanan flash on-board 16MB. Ia mempunyai CPU 587MHz dan USB 2.0. Sangat cocok dipakai sebagai mini server! Yang lebih menarik lagi, Onion menyediakan expansion board yang bisa dipasang secara plug-and-play. Beberapa expansion yang bisa menambah sisi fungsional Omega2 diantaranya Ethernet Expansion, Bluetooth Expansion, GPS Expansion, OLED Expansion, dll

Sumber :
https://www.kickstarter.com/projects/onion/omega2-5-iot-computer-with-wi-fi-powered-by-linux
https://itsfoss.com/onion-omega-2/
https://kabarlinux.web.id/2016/omega2-komputer-mini-murah-dengan-gnulinux/

Published in Artikel

Tepat sebelum UAS dimulai, mahasiswa STT Terpadu Nurul Fikri mendapat waktu luang selama dua minggu untuk persiapan menghadapi UAS. Sebagian besar mahasiswa menghabiskan waktu luangnya untuk belajar dan sebagian lainnya liburan. Bukan hanya sibuk dengan UAS, ada juga mahasiswa yang menghabiskan waktu luangnya dengan kegiatan club. Salah satunya IT Club Robotik 2018 STT NF.

Anak - anak IT Klub Robotik ini mempunyai cara tersendiri menghabiskan waktu luangnya yaitu dengan membuat “proyek liburan”. Proyek liburan ini adalah kegiatan ngoprek Robotik dengan proyeknya yaitu membuat kunci rumah RFID. Seperti Namanya, kunci rumah ini menggunakan RFID (sejenis sensor pembaca ID) sebagai alat untuk membukanya. kunci yang digunakan berupa katu ID yang telah tersimpan alamat di dalamnya. Satu alat ini bisa mempunyai banyak kunci (kartu) tergantung kodingan yang dibuat. Tentunya alat ini sangat efisien dan tentunya kelihatan canggih dan modis.

Kunci rumah RFID ini hanya salah satu dari sekian banyak proyek Robotik 2018. Pasalnya mereka sedang merancang proyek lain untuk persiapan demonstrasi IT Klub dalam acara ORMIK tahun ini. “Kunci rumah RFID ini hanyalah proyek liburan aja, kita masih ada proyek ORMIK dan juga proyek lainnya”. Ujar salah satu anggota Robotik 2018.

Kreatifitas tanpa batas. Itulah yang selalu mereka pegang teguh demi keberlangsungan IT Klub nya. Dengan bermodalkan kreatif, mereka bisa membuat alat – alat yang bermanfaat tidak hanya bagi mereka sendiri tapi juga bagi kampus dan lingkungan sosialnya.

Published in Pojok Mahasiswa

Pernahkah anda berpikir menghidupkan lampu rumah, mengunci pintu, membuka pintu, menghidupkan mobil dan sebagainya hanya dengan gadget anda. Hal tersebut sering kita lihat di film – film saja. Tapi bagaimana jika kita bisa memilikinya ? Sungguh menarik bukan ? tentu saja hal itu mungkin dimiliki oleh seiap orang. hal itu dinamakan IoT (Internet og Thing). Segalanya diatur melalui internet.

            Pada Tulisan kali ini, penulis akan sedikit menjelaskan tentang IoT. Sebagian dari kita mungkin pernah mendengar atau bahkan memakai teknologi IoT ini. Bahkan tak sedikit perusahaan besar sudah memakai teknologi ini untuk mengontrol property perusahaanya, mulai dari mesin pabrik, lampu, pintu gerbang, CCTV dan lain sebagainya.

Istilah Internet of Things awalnya disarankan oleh Kevin Ashton pada tahun 1999 dan mulai terkenal melalui Auto-ID Center di MIT. Internet of Things memiliki potensi untuk mengubah dunia seperti pernah dilakukan oleh Internet, bahkan mungkin lebih baik. (Ashton,2009)

IoT merupakan sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. Adapun kemampuan seperti berbagi data, remote control, dan sebagainya, termasuk juga pada benda di dunia nyata. Contohnya bahan pangan, elektronik, koleksi, peralatan apa saja, termasuk benda hidup yang semuanya tersambung ke jaringan lokal dan global melalui sensor yang tertanam dan selalu aktif.

Teknologi IoT ini telah dikembangkan selama bertahun – tahun dan mulai terkenal di dunia teknologi sejak tahun 2010. Sampai sekarang, proyek IoT masih terus berlajut dan mengalami perkembangan yang sangat cepat. Sampai saat ini, terhitung lebih dari ribuan alat rumahan yang dapat dikendalikan oleh internet. Jika sekarang saja sudah ribuan alat rumahan bisa dikendalikan, apa jadinya sepuluh tahun mendatang ? mungkin segala sesuatu bisa dilakukan hanya dengan mengklik smartphone anda. Menarik bukan ? bukan hal yang mustahil jika hal itu terwujud.

Meskipun begitu, hal ini masih saja menuai kontroversi di berbagai kalangan. Ada yang berpihak sekaligus mendukung perkembangan IoT, ada juga sebagian yang menolak dengan alsan akan semakin bertambahnya pengangguran karena segala sesuatu nantinya akan dikendalikan dengan internet. Apapun pendapat anda, perkembangan zaman akan memaksa untuk berubah dan tentunya ke arah yang lebih baik, lebih canggih dan lebih modern, seperti hal nya IoT ini, lambat laun akan menjadi teknologi yang dipakai oleh semua orang.

Published in Artikel

Pemanfaatan internet di dunia semakin berkembang. Tidak hanya untuk aktivitas menjelajah dunia maya dan chatting saja, internet juga dimanfaatkan untuk penerapan Internet of Things (IoT). IoT merupakan sebuah konsep di mana benda atau perangkat akan saling terhubung satu sama lain dengan internet. Contohnya, kendaraan, aplikasi, hingga peralatan rumah tangga.

Namun, guru komunikasi nirkabel, Mischa Dohler, punya pandangan berbeda. Ia menilai internet dapat dimanfaatkan untuk hal yang lebih mulia. Proyek ini disebut Internet of Skills. Dohler punya mimpi untuk mentransfer keterampilan seseorang secara digital. Nantinya, kemampuan ini diterapkan di tempat berbeda dengan koneksi internet super cepat.

Salah satu temuannya adalah sarung tangan khusus. Sarung ini menggabungkan dunia musik dan teknologi yang bisa digunakan oleh anak-anak yang ingin belajar piano dengan benar dari musisi ternama di dunia. Adapun, sarung bernama exoskeleton adalah semacam alat untuk meningkatkan kemampuan pengguna. Sarung ini merekam gerak tangan dan sendi sehingga membentuk pola tangan yang benar dan menggerakan tangan saat bermain piano.

Selain musik, Dohler juga mengembangkan Internet of Skills di bidang kesehatan. Saat wabah Ebola terjadi, Dohler mengembangkan cara untuk mentransfer kemampuan dokter yang berada jauh dari Afrika untuk merawat pasien. "Saya mencoba memberi sentuhan ahli bedah sehingga merasakan pembedahan yang dilakukan," tuturnya.

Karena teknologi selalu mewujudkan apa yang dibayangkan manusia, ia berharap Internet of Skills dapat mengubah dunia kerja dalam 10 tahun ke depan.

Published in Artikel

Memasuki minggu terakhir berpuasa, momen istimewa seperti mudik dan bersilaturahmi dengan keluarga menjadi acara wajib yang tidak boleh dilewatkan. Namun, di musim lebaran seringkali rumah ditinggal dalam keadaan kosong, baik itu karena mudik, bersilaturahmi ke tempat tinggal kerabat, atau sekedar salat Ied di Masjid. Untuk membantu penghuni rumah melindungi keamanan rumah di saat musim Lebaran nanti, berikut rangkaian solusi smart home dari Schneider Electric :

1. Sensor Okupansi

Di tengah kerepotan saat mudik, seringkali penghuni rumah lupa mematikan lampu sehingga lampu terus menyala walaupun tidak dibutuhkan. Selain boros energi, kondisi lampu yang tetap menyala sepanjang hari justru akan memberi kesan bahwa rumah kita tidak berpenghuni dan akhirnya mengundang aksi kejahatan.

Untuk mengatasi hal ini, pemilik rumah dapat memanfaatkan sensor okupansi yang dapat menyalakan atau meredupkan lampu secara otomatis dengan mendeteksi gerakan dalam ruangan. Dengan penggunaan sensor okupansi, tidak perlu lagi meninggalkan ruangan terang-benderang saat cahaya tak dibutuhkan, sehingga dapat menghemat biaya listrik selama mudik.

2. Lighting control

Pada dasarnya, lighting control merupakan bagian dari rangkaian solusi automasi untuk perumahan yang memanfaatkan teknologi dan Internet of Things untuk menciptakan konektivitas antar perangkat rumah. Pada musim Lebaran, di saat pemilik rumah sedang pergi dan lupa mematikan lampu, maka mereka dapat mematikannya dari jarak jauh melalui gadget di manapun mereka berada.

Selain itu, pemilik rumah juga dapat menetapkan penjadwalan otomatis untuk menyalakan/mematikan lampu untuk menghindari pemborosan. Solusi lighting control ini juga dapat diperluas fungsinya untuk mengontrol TV dan AC di rumah.

3. CCTV

Untuk mencegah aksi kejahatan yang tidak mustahil menimpa rumah kita di musim Lebaran nanti, sistem keamanan yang canggih dan modern juga penting untuk ditambahkan ke dalam rumah, seperti CCTV yang dapat memantau rumah anda selama 24 jam non-stop dan yang terpenting dapat langsung kita monitor melalui gadget.

Published in Artikel

Bicara soal brand Xiaomi, merek yang satu ini memang terkenal dengan produk smartphone murah meriah miliknya, terutama seri Redmi. Namun Xiaomi menjual banyak produk selain smartphone dan tablet, termasuk timbangan badan, rice coocker, hingga air purifier. Namun hingga saat ini, Xiaomi baru menjual produk mobile miliknya di Indonesia. Tampaknya, perusahaan asal Tiongkok itu bakal segera menjual produk lain ke Indonesia.

Selain smartphone seri Redmi dan Mi yang beken, Xiaomi juga menjual produk-produk lain mulai dari penanak nasi pintar hingga air purifier. Rencana tersebut diungkapkan oleh pihak Xiaomi bersama Erajaya dalam paket bundling bersama dengan Telkomsel di Jakarta, Rabu (26/4/2017). Menurut keterangan Hasan Aulia selaku CEO Erajaya Group, mereka akan menjual produk lain buatan Xiaomi. Produk yang akan mereka jual merupakan produk dalam kategori Internet of Things (IoT) atau setiap perangkat yang terhubung ke internet. Cukup sukses menjual produk mobile, kini mereka mencoba untuk memasarkan produk yang masuk ke dalam kategori smarthome.

"Kami akan memasarkan produk seperti wearable device, air purifier, dan perangkat-perangkat smarthome. Semua yang menyangkut internet product," ujar Hasan ketika dijumpai oleh KompasTekno seusai acara. Hasan mengaku belum bisa memastikan kapan produk-produk Xiaomi itu akan mulai dijual di Indonesia karena pihaknya masih mengurus sertifikasi yang diperlukan agar produk smarthome Xiaomi dapat dijual secara legal di Indonesia. Namun, dia memberi perkiraan waktu pemasaran perdana dalam dua hingga tiga bulan ke depan. Belum dipastikan juga perangkat apa saja yang akan dijual.

Dalam kesempatan yang sama, General Manager Xiaomi for South East Asia and South Pacific Steven Shi menjelaskan bahwa Xiaomi memiliki tiga pilar produk, yakni smartphone, produk-produk ekosistem, dan layanan internet. "Kalau Mi Roaming yang baru-baru ini meluncur, masuk kategori internet services. Sementara, produk, seperti air purifier dan TV pintar tergolong dalam perangkat ekosistem, " kata Shi.

aa

Shi mengaku optimis aneka produk IoT Xiaomi akan diminati konsumen Indonesia. Soal infrastruktur internet, menurut dia, bukan kendala karena perangkat-perangkat itu hanya menggunakan bandwidth kecil. "Jadi, yang dibutuhkan hanya konektivitas saja. Apalagi, 50 persen populasi Indonesia sudah terhubung ke internet. Mereka ini memiliki keinginan untuk memakai inovasi-inovasi digital terbaru," pungkasnya.

Published in Artikel
Senin, 23 Januari 2017 03:46

Tren Teknologi Internet of Things (IoT)

Pernahkah kita mendengar istilah IoT? Mungkin kita pernah mendengarnya dari teman-teman atau dosen kita sebelumnya.

IoT itu kepanjangan dari Internet of Things, yakni sebuah konsep dimana suatu objek memiliki kemampuan untuk mentransfer data melalui jaringan tanpa memerlukan interaksi manusia ke manusia atau manusia ke komputer. IoT telah berkembang dari konvergensi teknologi nirkabel, micro-electromechanical systems (MEMS), dan Internet.

Dengan teknologi tersebut, setiap barang yang kita miliki nantinya bisa terhubung dengan internet, sehingga bisa dikendalikan dari jarak jauh dengan smartphone atau bahkan dengan hanya menggunakan perintah suara. Pada tahun 2017 ini, diperkirakan akan ada 1,5 miliar perangkat baru yang terhubung dengan internet. Jumlah tersebut bahkan disebut-sebut akan meningkat hingga mencapai dua puluh miliar perangkat di tahun 2020.

Di Indonesia sendiri, telah ada beberapa perusahaan yang mencoba masuk ke bisnis IoT, seperti Dattabot dan Dycode. Selain itu, pemerintah kota seperti Jakarta dan Bandung pun turut serta mengembangkan teknologi IoT, yang mana mereka fokus kepadapemberian dukungan mengenai penerapan konsep Smart City.

internet of think

Sebenarnya kehadiran teknologi IoT sudah diprediksi sejak beberapa tahun lalu. Namun, mengapa sampai saat ini perkembangan teknologi tersebut belum mencapai puncaknya?

Salah satu yang menjadi alasan adalah kehadiran teknologi pendukung belum memadai. Selain itu, beberapa perusahaan masih belum menghadirkan solusi terintegrasi dan masih melakukannya secara terpisah.

Namun, tidak sedikit pula yang merasa gelisah dengan kehadiran teknologi IoT ini, salah satunya adalah seorang pembaca dari suatu blog, kemudian beliau menuliskan kegelisahannya tersebut dikolom komentar seperti berikut, “Hal yang saya takutkan adalah jika teknologi IoT ini dimanfaatkan oleh korporat besar untuk melihat privasi dan mengendalikan kebiasaan kita mengingat semua perangkat terhubung dengan internet, dan kemudian memanfaatkannya untuk kepentingan bisnis mereka.”

Pembaca lain bernama Agus Afif Riyadi, pun turut serta membalas komentar tersebut diatas, “Pertanyaan yang sama terlintas di benak saya. Menurut pendapat saya, hal tersebut bisa saja terjadi. Untuk itu diperlukan regulasi ataupun T&C yang jelas mengenai kebijakan privasi pengguna dari produsen IoT untuk barang-barang yang mereka ciptakan. IoT harus dipandang bukan hanya sebagai ‘barang-barang canggih dari masa depan, tapi juga perlu dipandang sebagai industri yang perlu diberi aturan-aturan tertentu untuk melindungi konsumen.”

Jelas terlihat, bahwasanya kemajuan teknologi yang semakin pesat ini tidak hanya mengundang apresiasi masyarakat, namun tidak sedikit pula yang melihatnya dari segi akibat yang ditimbulkan dari perkembangan teknologi ini. Untuk itu, manfaatkan dengan sebijak mungkin teknologi yang telah ada dan berkembang saat ini.

Dapatkan Potongan Biaya Kuliah s.d 1,5 Juta di Gel 1 ( s.d 31 januari 2017)
Daftar Sekarang klik http://pmb.nurulfikri.ac.id/

Published in Artikel