Mahasiswa Berprestasi - Ada kisah menarik dari salah satu mahasiswi STT Terpadu Nurul Fikri. Dia adalah Laila Nafilah atau biasa dipanggil Laila. Dia mahasiswi Angkatan 2016 Jurusan Sistem Informasi (SI). Laila tinggal di kost yang berada tidak jauh dari lokasi kampus STT Terpadu Nurul Fikri.

Laila salah satu Mahasiswa Berprestasi juga di kampus dan beraktivitas sebagai seorang Pengajar di Lembaga Belajar Mengajar yaitu Rumah Inspirasi Anak Langit (RIAL). Laila pernah mendapatkan Juara 1 Lomba Analisis Sistem Informasi yang diselenggarakan oleh Universitas Budi Luhur. Laila juga Mahasiswa yang aktif di kegiatan kampus, dia pernah menjadi Panitia di berbagai kegiatan LFK diantaranya :

- Menjadi Panitia di Kegiatan NuFest (Festival yang diselenggarakan Kampus STT Terpadu Nurul Fikri)

- Menjadi Panitia Ormik Tahun 2017

- Panitia ORMIK Tahun 2018

- Menjadi Panitia Kafillah Season 3 pada Tahun 2018

- Dan Menjadi Panitia LDMKM 2018

Saat ini, Laila Nafilah sedang menempuh di Semester 7. Untuk memanage aktivitas antara kuliah, mengajar, berorganisasi di kampus dia juga sudah mulai menyiapkan untuk PKL (Praktek Kerja Lapang) dan TA (Tugas Akhir) adalah suatu hal yang tidak mudah. Namun dengan semangat, kerja keras juga kegigihan dia bisa mengatasinya sehingga semua bisa tercapai dengan hasil yang maksimal.

Published in Kisah dan Curhat

Pernah membayangkan tidak, jika kamu bisa diundang ke acara Google yang ada di luar negeri dan bertemu dengan banyak Developer IT canggih di luar sana?

Hei..! tenang saja itu bukanlah suatu hal yang tidak mungkin, karena buktinya, Mahasiswa STT-NF yaitu M. Isfahani Ghiyath memiliki kesempatan untuk bisa berkunjung dalam acara besar tahunan Google I/O Summit 2019 di Shoreline Amphitheatre, Mountain View, California.

Isfa, merupakan mahasiswa tingkat akhir yang akan di wisuda bulan Agustus mendatang, merupakan mahasiswa berprestasi yang menciptakan Antivirus Spensav di bangku sekolah menengah, terakhir kali dia juga mewakili Indonesia dalam ajang Asia Pacific ICT Alliance (APICTA) tahun 2018 lalu. Aktivitas Isfa saat ini adalah sebagai magang di Tokopedia sebagai Android Developer.

Isfa terpilih menjadi perwakilan kampus STT-NF sebagai Lead Developer Student Club untuk menghadiri Google I/O Summit 2019, dalam acara tersebut akan ada presentasi produk terbaru mereka dan mengajak seluruh Developer di dunia untuk datang di acara tersebut.

“Benefit ikut acara adalah pengalaman datang ke acara terbesar di dunia, belajar banyak hal inovasi google untuk pengembangan kualitas hardskill dan softskill, menemukan networking dengan orang Google dan Developer seluruh dunia, yang paling utama pengalaman. Saya akan pergi tanggal 6 Mei di sana selama 1 minggu. Sedangkan acara akan dimulai pada tanggal 7 Mei hingga 9 Mei 2019,” kata Isfa.

Wah semoga, kita yang punya impian ingin jadi keluarga Google tercapai ya...!

Published in Pojok Mahasiswa

Lomba smart city STT NF merupakan sebuah program baru yang diadakan kampus Nurul Fikri dengan menjalin kerjasama dengan Mosque Life pada tahun 2018. Bentuk perlombaan ini berupa membangun aplikasi yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada di Indonesia. Adapun jumlah peserta yang mengikuti lomba ini adalah 17 tim, dimana tiap tim maksimal terdiri dari 4 orang mahasiswa.

 

Setelah melewati proses yang cukup panjang akhirnya pada hari sabtu, 23 Februari 2019 kemarin, diumumkanlah pemenang dari perlombaan ini yang bertempat di Auditorium STT-NF usai melaksanakan kuliah umum. Akhirnya juara I dimenangkan oleh tim ‘A Lot’ dengan tema aplikasi “Industri makanan etnis”, sedangkan juara II diraih oleh tim ‘Basmallah’ dengan tema aplikasi “Keluarga Miskin”, dan juara III dimenangkan tim ‘Dot’ dengan tema aplikasi “Pariwisata”. Sebagai bentuk penghargaan, para pemenang lomba mendapatkan sertifikat dan hadiah total sebesar 5 juta rupiah.

 

Mahasiswa berharap kegiatan lomba seperti ini rutin diadakan untuk menambah pengalaman dalam membangun aplikasi “Lomba seperti ini sebaiknya terus diadakan lagi untuk mengembangkan dan menambah kemampuan mahasiswa dalam membangun aplikasi. Tentunya mahasiswa yang mengikuti lomba semacam ini akan memiliki pengalaman lebih. Harapan kami kedepannya dari pihak kampus dapat melibatkan IT CLUB”. Ujar Satria Suryanegara selaku salah panitia penyelenggara Smart City.

 

Published in Kegiatan Kampus
%PM, %28 %910 %2019 %20:%Jan

Agung Prayoga Raih Juara 1 Biopoint

Agung Prayoga kembali mencantumkan namanya dalam deretan berita popular mahasiswa setelah menjuarai lomba Maphathon kategori Biopoint yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian jurusan Geodesi, Institut Teknologi Bandung. Biopoint sendiri merupakan salah kategori perlombaan dimana peserta diwajibkan menemukan lokasi baru di sebuah aplikasi bernama Here, semakin banyak  lokasi baru yang ditemukan dalam aplikasi tersebut maka akan semakin banyak pula  poin yang didapat. Perlombaan yang dilaksanakan selama 10 hari terhitung sejak tanggal 07 hingga 17 Januari 2019 itu sukses dijuarai oleh mahasiswa STT Terpadu Nurul Fikri bernama lengkap Agung Prayoga. Lomba yang diikuti oleh mayoritas mahasiswa ITB itu tidak menghalangi langkah Agung untuk tetap mengikuti dan berusaha memberikan yang terbaik. “Alhamdulilah seneng yah, soalnya perjuangannya juga lumayan besar buat lomba ini” Ujar Agung. Untuk menjadi pemenang dan mengalahkan peserta lain yang mayoritas adalah tuan rumah tentu bukan hal yang mudah. Pengorbanan yang dilakukan pun pastinya harus besar dan tak biasa “Aku sampai nggak tidur beberapa hari demi mendapatkan poin yang besar” Lanjut Agung.

 

Menjadi sebuah kesan tersendiri bagi Agung dapat bersaing dengan peserta lain yang mayoritas berasal dari kampus terkemuka. “Aku belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan itu memang nggak mudah yah, harus berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan hasil yang maksimal juga” Kesan Agung. Agung juga berpesan kepada mahasiswa yang lain bahwa semua orang mempunyai potensi masing-masing serta memiliki kesempatan masing-masing pula untuk menjadi pemenang di bidang yang digeluti.Kalau kita menginginkan sesuatu, disana kita harus berusaha dan berdo’a semaksimal mungkin untuk mendapatkannya, karena usaha itu tidak akan menghianati hasil”. Untuk meraih apa yang diinginkan tentu harus ada pengorbanan, dan pengorbanan yang dilakukan itulah yang akan menjadi bukti keberhasilan kita di masa yang akan datang. Agung mahasiswa tingkat akhir STT Terpadu Nurul Fikri yang tengah sibuk mengurus berbagai hal saja masih dapat menyabet gelar sebagai juara pertama, jadi bukan hal yang tak mungkin bagi mahasiswa lainnya dapat lebih hebat dari Agung asalkan ada kemauan keras, usaha dan tentu doa. Semangat!

Published in Pojok Mahasiswa

Kembali terdapat pembicaraan hangat di kampus STT Terpadu Nurul Fikri setelah salah satu mahasiswanya mendapat juara tiga pada perlombaan desain logo KSB (Kampung Siaga Bencana) yang diselenggarakan oleh Kementrian Sosial Republik Indonesia pada tanggal 7 Desember 2018 lalu. Ya, siapa lagi kalau bukan Ibrahim Syafiq Musyaffa. Mahasiswa yang memiliki kemampuan desain grafis ini memang rajin mencantumkan namanya dalam deretan juara pada hampir setiap perlombaan desain yang diikuti.

Acara yang diikutinya baru-baru ini sedikit berbeda dengan perlombaan yang biasa ia ikuti, karena selain penyelenggaranya adalah lembaga kepemerintahan, pesertanya pun sangat banyak karena berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Perasaan bangga tentu melekat pada diri mahasiswa yang akrab dipanggil Syafiq ini, meskipun tidak meraih posisi sebagai juara pertama tetapi sudah lebih dari hebat bisa menduduki posisi sebagai juara tiga  dari sekian banyaknya peserta dari seluruh wilayah di nusantara.

Selain mendapat penghargaan, Syafiq juga mendapat hadiah berupa tabungan berjumlah jutaan Rupiah. Dilansir dari Suara.com yang menyatakan bahwa finalis lomba desain logo dan cipta mars KSB akan menerima hadiah masing-masing sebesar Rp. 5.000.000 (Lima juta rupiah). ”Selain penghargaan dan uang, hal yang paling penting adalah pengalaman. Bukan uangnya sih yang paling berarti, tapi pengalamannya” ungkap Syafiq. Menjadi yang terbaik memang harapan semua orang dan tentu hal itu tidak semata–mata didapat dengan percuma, harus menghadapi berbagai tantangan dalam prosesnya. Begitu pula dengan Syafiq, berbekal pengalamannya selama ini dan bermodalkan kemampuan, ia bisa menjadi finalis sekaligus juara dalam acara tersebut. “Rajin-rajinlah belajar dari pengalaman”, Ibrahim Syafiq.

Published in Pojok Mahasiswa

Siapa sangka wanita berbadan mungil, berwajah bulat dan memiliki senyum kecil yang lembut ini adalah sosok yang sangat berjuang keras untuk meraih mimpi. Pantang menyerah, mungkin itulah kata yang dapat menggambarkan dirinya. Memiliki rutinitas bangun pagi, sarapan, sholat subuh, tadarus, dan kuliah menjadikan kebiasaan tersebut terlihat biasa-biasa saja di mata kebanyakan orang. Namun ternyata ada hal yang tidak disangka dari wanita yang akrab dipanggil Lia ini, pasalnya ia merupakan seorang Public Speaker yang cukup handal dalam bidang yang tengah digelutinya tersebut.

Menulis menjadi hobi yang sangat digemari Lia dan dari hobi inilah ia mengasah kemampuannya dalam hal tulis-menulis. Lia merupakan sosok yang unik karena mencintai  berbagai perbedaan dan tantangan, disiplin, percaya diri, serta memiliki komitmen tinggi. Sisi kepribadian itulah yang mengantarkan dirinya menjadi public speaker yang adaptable dengan berbagai acara yang dibawakannya mulai dari acara semi formal seperti seminar dan talkshow hingga informal seperti acara musik beraliran rock dapat ia bawakan dengan baik. Sebagai seorang public speaker, menurutnya hal yang paling berkesan dan membahagiakan adalah ketika dirinya dapat menyelesaikan tugas dengan baik, yaitu membawakan acara dengan penuh penjiwaan serta membuat audiens bahagia menikmati setiap kata yang ia ucapkan ketika beraada diatas panggung.

Di sisi lain, sebagai seorang public speaker yang terkesan begitu riang, ternyata Lia memiliki cita-cita yang tak disangka yaitu menjadi staff di KPK atau Komisi Pemberantasan Korupsi. Karena menurutnya, menjadi agen anti korupsi adalah cita-cita yang harus ia raih untuk menyelamatkan Indonesia dari tikus-tikus berdasi yang kian merajalela di negeri merah putih ini. Dari cita-citanya tersebut, ternyata Lia bukan saja sosok yang unik namun juga sosok yang beragam. Pasalnya Lia merupakan lulusan sebuah SMK jurusan Farmasi, kemudian melanjutkan kuliah dengan jurusan IT, berprofesi sebagai public speaker, dan bercita-cita sebagai seorang anti koruptor di bawah naungan lembaga bernama KPK. Co-Founder dari #kelasberani ini memang memiliki perencanaan yang matang sejak dini dan terus berusaha mewujudkan keinginannya dengan segala kemampuan yang dimiliki saat ini.

Prestasi yang diraih Lia ternyata cukup banyak. Saat SMK, ia lulus dengan nilai terbaik di jurusannya dan meraih gelar sebagai juara umum. Ia pun pernah menyabet gelar sebagai juara 2 olimpiade farmasi tingkat kabupaten saat menduduki bangku SMK. Menurutnya momen tersebut cukup berkesan dan memberikan rasa tersendiri ketika mengenangnya. Saat itu, ia bersama tiga teman lainnya membuat Body scrub dari kulit pisang, sebuah produk kecantikan alami yang belum pernah ada sebelumnya. Tak hanya itu, Mahasiswa peraih IP 4 ini juga pernah mendapat penghargaan sebagai karyawan tauladan dari sebuah klinik tempat bekerjanya dahulu dengan posisi sebagai ketua Instalasi Farmasi.

Jika mengulik Lia, ternyata ia memiliki sisi-sisi yang tak biasa. Lia juga ternyata memiliki cukup banyak pengalaman di bidang politik. Ia pernah menjadi Panwaslu Pilkada Jabar beberapa bulan silam dan berencana untuk menjadi Panwas Pilpres 2019 mendatang, kemudian ia pun pernah menjadi duta sebuah proyek yang dicanangkan oleh OJK (Otoritas Jasa Keuangan Indonesia) bersama ADB (Asian Development Bank) terkait keuangan inklusif di Indonesia, serta pernah menjabat sebagai panitia sensus penduduk Kabupaten Bogor. Lia, yang juga memiliki keinginan untuk menjadi presenter ini memiliki rencana untuk bergabung bersama para jurnalis senior di Indonesia melalui wadah bernama depoknews.com dan depokbersahabat.id dengan memberikan kontribusi berupa tulisan dan mengikuti berbagai pelatihan jurnalistik untuk mengasah  kemampuannya dalam menulis dan public speaking. Akhir kisah tentang Lia, ternyata ia tak ingin bisa dan berhasil sendirian. Ia tak  hentinya menggembor-gemborkan mahasiswa STT-NF untuk ikut serta belajar berbicara melalui #kelasberani yang ia inisiasikan bersama salah satu dosen STT-NF. Dan Lia juga berpesan kepada teman-teman mahasiswa lainnya untuk selalu merasa lapar dan haus akan ilmu, walaupun mungkin ilmu tersebut belum kita ketahui dan kita rasakan manfaatnya saat ini. Karena siapa tahu dari ilmu-ilmu yang dipelajari saat ini justru menjadi peluang kesuksesan kita di masa depan.

Published in Kisah dan Curhat
%AM, %23 %299 %2018 %06:%Des

Jawara Silat Bercita-cita Menjadi Polwan

Dosen STT Nurul Fikri, Sapto Waluyo, menyambut baik prestasi yang diraih Widi Annissah, mahasiswa STT NF program studi Sistem Informasi angkatan 2018 sebagai juara pertama dalam kompetisi pencak silat Sinar Warna Nusantara Championships. “Saya tidak menyangka Widi akan meraih prestasi puncak karena baru semester awal, sementara lawan tandingnya adalah mahasiswa yang lebih senior dari kampus lain,” ujar Sapto yang juga dikenal sebagai pembina jurnalistik kampus. Kompetisi digelar di Gelangggang Olahraga Ciracas, Jakarta (20/12/2018).
 
Widi yang biasa dipanggil Icha mengungkapkan rahasia kemenangannya. “Saya menggunakan jurus andalan tendangan sabit kiri, tendangan kanan dan sapuan berbalik (circle).” Persiapan total dilakukannya sebelum bertarung di babak penyisihan, semi final hingga final. Tidak hanya latihan teknik dan fisik secara intensif, melainkan juga harus menurunkan berat badan. H-3 jelang pertandingan ia harus menurunkan berat badan 2 kilogram dengan jogging, memakai pakaian berlapis dan jaket sauna. “Alhamdulilah, berat turun dari 50,8 kilo menjadi 48,6 dalam waktu tiga hari, sesuai ketentuan pertandingan.”
 
Perjalanan hidup gadis kelahiran Jakarta, 18 Maret 2000 itu juga penuh dinamika. Di usia kanak-kanak dan remaja, ia harus tinggal berpindah-pindah. Mulai RA TK Nurul Jalal di Jakarta Utara, SDN Warakas 01/02 Pagi/Petang Jakarta Utara, hingga menamatkan sekolah di SD Setia Asih 02/06, Bekasi. Karena keluarganya harus mencari nafkah di sekitar Jakarta dan Bekasi. Sekolah menengah diselesaikan di SMP Negeri 269 Jakarta Pusat dan SMK Muhammadiyah 11 Jakarta.
 
Sekarang Icha tinggal asrama putri STT NF karena mendapat beasiswa prestasi. Ia memiliki dua orang saudara kandung. “Insya Allah, saya bercita-cita menjadi Polwan (Polisi Wanita) karena terlihat keren dan bisa menolong orang lain,” tutur Icha.
 
Perkenalannya dengan dunia silat dimulai sekitar 2015, karena melihat atraksi kakak-kakak kelas saat demo ekstra kurikuler di SMK. Pelatihnya di perguruan seni beladiri Tapak Suci Putera Muhammadiyah adalah: Muflih Thufali, Retno Wulandari, dan Masruri. Ia memilih Tapak Suci karena satu-satunya perguruan silat di Indonesia yang mewajibkan peserta puteri berjilbab dan metoda pelatihan sangat islami. “Dari awal pembukaan hingga penutupan menggunakan doa-doa islami. Pembukaannya adalah mengucap dua kalimat syahadat serta doa memohon diberikan ilmu. Sedang penutupnya adalah doa syukur kepada Allah Ta’ala,” jelas Icha.
 
Selama ini Icha telah mengikuti berbagai kejuaraan, seperti Jakarta Championship 4, Jayabaya Open, Pekan Olahraga Remaja Kota (PORKOT), Pekan Olahraga Pelajar Kota (POPKOT), JakPus Championship, Olahraga Olimpiade Siswa Nasional (O2SN) tingkat Jakarta Pusat, tingkat Provinsi DKI Jakarta, Polimedia Cup, dan Sinar Warna Nusantara. “Alhamdulillah, saya pernah berprestasi sebagai Juara 3 JKTC4, Juara 3 JPC, Juara 1 PORKOT, Juara 1 O2SN Tingkat Walikota Jakpus,dan Juara 1 O2SN Tingkat Provinsi DKI Jakarta,” Icha bercerita.
 
Ia merasa bahagia, tatkala berdiri di podium menerima medali, sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itu kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan. Itu adalah kenikmatan setelah merasakan sakitnya proses latihan. Rencana tanding ke depan, ia ingin mengikuti kejuaraan yang bergengsi seperti kejuaraan nasional atau internasional Singapura Open. Ia selalu berdoa dan diiringi latihan penuh disiplin.
 
Icha sangat bersyukur karena mendapat beastudi STT NF dari jalur prestasi. Hobi dan bakatnya akan terus tersalurkan lewat pertandingan-pertandingan, namun kuliah juga tak dilupakan. Ia merasakan semua itu sebagai anugerah, bukan beban. Justru bersyukur karena tidak semua mahasiswa atau kaum muda mendapatkan kesempatan sebagaimana dirinya. Jadwal latihannya cukup ketat : Senin, Rabu, dan Ahad. Selain itu, dia juga harus mengatur waktu belajar dan bersosialisasi dengan lingkungan.
 
“Saudari Icha adalah sosok yang berdisiplin dan berprestasi sesuai dengan spirit STT NF sebagai kampus pembentuk karakter NICE (Novelty, Integrity, Caring and Empathy),” jelas Sapto Waluyo. []
Published in Kegiatan Kampus

Kisah kali ini datang dari Muhammad Syaiful Ramadhanakrab disapa Ipul, salah satu mahasiswa aktif Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri (STT-NF). Laki-laki berdarah Jawa ini memang memliki semangat yang luar biasa. “Badan boleh kecil, kampus boleh kecil tapi pemikiran harus besar” itulah yang dikatakan oleh mahasiswa yang berhasil mendapatkan gelar Mapres Utama tahun 2017 ini. Terdaftar sebagai mahasiswa STT-NF sejak tahun 2015 sekaligus penerima beasiswa Beastudi Nusantara bersama dengan 20 teman lainnya menjadikan sosoknya cukup menarik perhatian.

Banyak pengalaman telah didapatnya dari STT-NF sejak semester 1 hingga kini tengah menginjak semester 7. Mahasiswa yang memiliki target lulus 3.5 tahun ini memiliki pengalaman hebatnya tersendiri selama berkuliah di STT-NF diantaranya yaitu menjadi langganan AsistenDosen (Asdos) pada semester 3 untuk mata kuliah DDP, POSA dan Pemprograman Web saat semester 5 serta Metpen saat menginjak semester 7. Tentu tidak hanya sampai disitu saja, masih banyak prestasi yang berhasil didapatkan Ipul, salah satunya sukses menjadi ketua pelaksana Kafillah—salah satu acara besar yang diadakan LDK Senada—pada tahun 2016 silam.

 

Published in Kisah dan Curhat

Sumatera Barat, salah satu provinsi di Indonesia rupanya bukan saja menyimpan banyak keindahan alam namun juga memiliki putra-putri bangsa dengan potensi yang luar biasa, Muhammad Fadhil Hilmi salah satunya. Laki-laki yang berasal dari desa Pariangan, Sumatera Barat—salah satu desa yang indah karena lokasinya di lereng gunung berapi—ini memang memiliki kisah yang cukup unik untuk diulik.

Muhammad Fadhil Hilmi dibesarkan dan mengenyam pendidikan selama 9 tahun di ibu kota Jakarta. Hilmi—begitu sapaan akrabnya—menikmati bangku sekolah di Jakarta hingga jenjang SMP. Setelah lulus dari Sekolah Menengah Pertama lalu ia melanjutkan pendidikan SMAnya di daerah asal, Sumatera Barat. Saat menempuh jenjang SMP dirinya mengaku tak pernah semangat belajar serta enggan bersosialisasi dengan teman sebaya. Kondisi yang berbanding terbalik ketika dirinya memasuki bangku SMA. Merasa paling keren, gaul serta paling unggul dan paling pintar sebagai ‘anak Jakarta’ membuatnya angkuh. Yang lama-kelamaan membuat lelaki yang kini berusia 21 tahun ini tak nyaman karena terus berprilaku yang bertentangan dengan naluri hati kecilnya sebagai makhluk sosial. Hingga akhirnya ia menyesali perbuatannya tersebut dan tak ingin lagi meremehkan orang lain.

Berawal dari bantuan saudaranya, Hilmi bertekad menjadi pribadi yang lebih baik. Berjanji untuk mempersembahkan usaha terbaik di setiap langkah, mulai bersosialisasi dengan lingkungan sekitar, serta tidak akan pernah menyerah. Mengantarkannya meraih posisi sebagai salah satu siswa yang mendapat peringkat 10 besar. Tak hanya itu, Hilmi pun berhasil meraih penghargaan sebagai juara dua lomba Blogging Cybercity. Tentu ini merupakan prestasi yang cukup membanggakan dan bukan hal yang didapat dengan percuma, namun dengan perjuangan yang luar biasa. Bertransportasikan sepeda ontel dan belajar komputer hingga pukul 11 malam rela dilakukan demi menempati janji memberikan yang terbaik termasuk di moment sebagai peserta lomba Blogging Cybercity ini.

Merasa terombang-ambing untuk mengambil langkah setelah menyeselesaikan pendidikan SMA, membuatnya terus meminta pada Allah untuk ditunjukan jalan terbaik yang harus ditempuh. Hingga akhirnya ia mendapatkan pertolongan tersebut yang lagi-lagi melalui saudaranya sebagai perantara. Mencoba mengikuti tes masuk Perguruan Tinggi Negeri SNMPTN dan SBMPTN menjadi pilihannya di tahun pertama setelah lulus SMA. Namun sayangnya ternyata keberuntungan belum memihak pada Hilmi. Sosoknya yang berpegang teguh pada prinsip “Proses tidak akan pernah mengkhianati hasil” membuatnya mencoba mengikuti tes kembali di tahun berikutnya yang tentunya juga dengan usaha dan doa yang lebih besar. Tapi kembali disayangkan, ternyata Dewi Fortuna belum juga memihak. Keadaan tersebut tak membuatnya menyerah, tekadnya untuk melanjutkan pendidikan tetap membara.

Berawal dari sebuah seminar yang diadakan STT-NF dengan menghadirkan pembicara hebat yang kemudian mengantarkannya seperti saat ini, menjadi titik balik atas segala harapan dan mimpi yang harus diraih. Tidak pantang menyerah dan fokus dengan tujuan adalah kata yang pantas untuk menggambarkan sosoknya yang terus berusaha untuk melampui kemampuan yang dimilikinya. Aktif di organisasi BEM sebagai Menteri Pendidikan dan keilmuan (P & K), menjadi Project Officer pada kegiatan incubator PKM, mendapatkan gelar Mahasiswa Berprestasi di STT-NF dan menjadi asisten dosen Database selama dua tahun menjadikan pemuda Pariangan ini memiliki nilai diri yang tidak dimiliki oleh orang lain. “Kampus boleh kecil tapi pikiran harus seluas dunia” itulah pesan yang diberikan Hilmi kepada rekan mahasiswa STT-NF seperjuangan terutama untuk dirinya sendiri agar tetap menjadi pribadi yang beryukur dan pantang menyerah dengan keadaan.

Published in Kisah dan Curhat

Sorak sorai kegembiraan terjadi di kalangan mahasiswa STT Terpadu Nurul Fikri, pasalnya dua teman seperjuangannya berhasil menoreh prestasi dalam perlombaan Analisis Sistem Infomasi (ANSI) di Universitas Budi Luhur. Penghargaan sebagai juara satu lomba yang dilaksanakan pada hari Rabu, 21 November 2018 silam itu sukses diboyong oleh dua mahasiswi STT-NF. Adalah  Rizka Amalia Apriliani dan Laila Nafila (mahasiswi SI 2016) yang menjadi satu-satunya peserta dari luar kampus Budi Luhur yang ikut serta dalam perlombaan yang dikhususkan untuk mahasiswa IT tersebut.

Tentu menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi dua sekawan ini bersaing dengan peserta lain yang berasal dari dalam kampus Budi Luhur sekaligus membawa pulang penghargaan sebagai juara perlombaan. “Seneng banget Alhamdulillah bisa juara satu. Awalnya gak nyangka banget sih” ujar Rizka. “Bukan cuma juara yah, tapi juga pengalaman. Dapet juara penting banget tapi juga pengalaman tidak kalah pentingnya” tambahnya sebagai ungkapan syukur.

Mahasiswi yang akrab disapa Inces (Rizka) dan Laila ini memang dikenal aktif mengikuti kegiatan extra-kampus, hal ini terbukti dengan beberapa kali mengikuti perlombaan yang diselenggarakan oleh pihak eksternal NF seperti MTQN yang dilaksanakan di ITS dan masuk sebagai finalis tahun lalu. Sudah bukan menjadi hal yang aneh bagi mereka mengikuti acara-acara luar bahkan mereka dengan santai ikut serta dalam acara-acara tersebut. “kalo tegang sih enggak yah, karena udah biasa ikut perlombaan seperti ini, malah kita enjoy aja” ungkap Rizka saat pers.

Namun begitu, kendati berbekal kemampuan dan pengalaman yang mumpuni, kedua mahasiswi ini tetap mengalami kesulitan dalam mengikuti perlombaan ini terutama pada saat penyusunan laporan. “Sempet kesulitan juga saat nyusun laporan karena bentrok dengan acara LDMKM (Latihan Dasar Manajemen dan Kepemimpinan Mahasiswa) selama 3 hari, dari hari jum’at sampai hari minggu padahal hari seninnya deadline ngumpulin laporan. Kebetulan jadi panitia juga” ujar Rizka. Meskipun mengalami kesulitan namun tidak menyurutkan semangat keduanya untuk tetap berjuang. Mereka juga berpesan kepada mahasiswa lainnya supaya lebih giat lagi mencari peluang melalui perlombaan di luar kampus. “Jangan banyak mikir, coba aja dulu, hasil mah belakangan” ujar Rizka. Tentunya hal ini menjadi motivasi bagi mereka secara pribadi dan juga mahasiswa lainnya untuk lebih bersemangat mengikuti pelombaan di dalam ataupun luar kampus.

Published in Pojok Mahasiswa
Halaman 1 dari 2