%AM, %23 %299 %2018 %06:%Des

Jawara Silat Bercita-cita Menjadi Polwan

Dosen STT Nurul Fikri, Sapto Waluyo, menyambut baik prestasi yang diraih Widi Annissah, mahasiswa STT NF program studi Sistem Informasi angkatan 2018 sebagai juara pertama dalam kompetisi pencak silat Sinar Warna Nusantara Championships. “Saya tidak menyangka Widi akan meraih prestasi puncak karena baru semester awal, sementara lawan tandingnya adalah mahasiswa yang lebih senior dari kampus lain,” ujar Sapto yang juga dikenal sebagai pembina jurnalistik kampus. Kompetisi digelar di Gelangggang Olahraga Ciracas, Jakarta (20/12/2018).
 
Widi yang biasa dipanggil Icha mengungkapkan rahasia kemenangannya. “Saya menggunakan jurus andalan tendangan sabit kiri, tendangan kanan dan sapuan berbalik (circle).” Persiapan total dilakukannya sebelum bertarung di babak penyisihan, semi final hingga final. Tidak hanya latihan teknik dan fisik secara intensif, melainkan juga harus menurunkan berat badan. H-3 jelang pertandingan ia harus menurunkan berat badan 2 kilogram dengan jogging, memakai pakaian berlapis dan jaket sauna. “Alhamdulilah, berat turun dari 50,8 kilo menjadi 48,6 dalam waktu tiga hari, sesuai ketentuan pertandingan.”
 
Perjalanan hidup gadis kelahiran Jakarta, 18 Maret 2000 itu juga penuh dinamika. Di usia kanak-kanak dan remaja, ia harus tinggal berpindah-pindah. Mulai RA TK Nurul Jalal di Jakarta Utara, SDN Warakas 01/02 Pagi/Petang Jakarta Utara, hingga menamatkan sekolah di SD Setia Asih 02/06, Bekasi. Karena keluarganya harus mencari nafkah di sekitar Jakarta dan Bekasi. Sekolah menengah diselesaikan di SMP Negeri 269 Jakarta Pusat dan SMK Muhammadiyah 11 Jakarta.
 
Sekarang Icha tinggal asrama putri STT NF karena mendapat beasiswa prestasi. Ia memiliki dua orang saudara kandung. “Insya Allah, saya bercita-cita menjadi Polwan (Polisi Wanita) karena terlihat keren dan bisa menolong orang lain,” tutur Icha.
 
Perkenalannya dengan dunia silat dimulai sekitar 2015, karena melihat atraksi kakak-kakak kelas saat demo ekstra kurikuler di SMK. Pelatihnya di perguruan seni beladiri Tapak Suci Putera Muhammadiyah adalah: Muflih Thufali, Retno Wulandari, dan Masruri. Ia memilih Tapak Suci karena satu-satunya perguruan silat di Indonesia yang mewajibkan peserta puteri berjilbab dan metoda pelatihan sangat islami. “Dari awal pembukaan hingga penutupan menggunakan doa-doa islami. Pembukaannya adalah mengucap dua kalimat syahadat serta doa memohon diberikan ilmu. Sedang penutupnya adalah doa syukur kepada Allah Ta’ala,” jelas Icha.
 
Selama ini Icha telah mengikuti berbagai kejuaraan, seperti Jakarta Championship 4, Jayabaya Open, Pekan Olahraga Remaja Kota (PORKOT), Pekan Olahraga Pelajar Kota (POPKOT), JakPus Championship, Olahraga Olimpiade Siswa Nasional (O2SN) tingkat Jakarta Pusat, tingkat Provinsi DKI Jakarta, Polimedia Cup, dan Sinar Warna Nusantara. “Alhamdulillah, saya pernah berprestasi sebagai Juara 3 JKTC4, Juara 3 JPC, Juara 1 PORKOT, Juara 1 O2SN Tingkat Walikota Jakpus,dan Juara 1 O2SN Tingkat Provinsi DKI Jakarta,” Icha bercerita.
 
Ia merasa bahagia, tatkala berdiri di podium menerima medali, sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itu kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan. Itu adalah kenikmatan setelah merasakan sakitnya proses latihan. Rencana tanding ke depan, ia ingin mengikuti kejuaraan yang bergengsi seperti kejuaraan nasional atau internasional Singapura Open. Ia selalu berdoa dan diiringi latihan penuh disiplin.
 
Icha sangat bersyukur karena mendapat beastudi STT NF dari jalur prestasi. Hobi dan bakatnya akan terus tersalurkan lewat pertandingan-pertandingan, namun kuliah juga tak dilupakan. Ia merasakan semua itu sebagai anugerah, bukan beban. Justru bersyukur karena tidak semua mahasiswa atau kaum muda mendapatkan kesempatan sebagaimana dirinya. Jadwal latihannya cukup ketat : Senin, Rabu, dan Ahad. Selain itu, dia juga harus mengatur waktu belajar dan bersosialisasi dengan lingkungan.
 
“Saudari Icha adalah sosok yang berdisiplin dan berprestasi sesuai dengan spirit STT NF sebagai kampus pembentuk karakter NICE (Novelty, Integrity, Caring and Empathy),” jelas Sapto Waluyo. []
Published in Kegiatan Kampus