%AM, %03 %169 %2019 %03:%Mar

Penghargaan Untuk Mahasiswa Berprestasi

Sabtu, 23 Februari 2019 setelah selesai diadakan kuliah umum, STT Terpadu Nurul Fikri memberikan penghargaan kepada mahasiswanya yang telah mendapatkan juara dalam berbagai kompetisi, baik di tingkat nasional maupun internasional. Terdapat 5 mahasiswa yang mendapatkan penghargaan tersebut, diantaranya Agung Prayoga sebagai peraih juara pertama lomba Maphathon ITB tahun 2019, Widhi Annisah sebagai juara pertama kejuaraan silat Sinar Warna Nusantara 2018, Ibrahim Syafiq Musyaffa sebagai peraih juara III perlombaan Desain Logo oleh Kementrian Sosial pada tahun 2018, Rizka Amalia Apriliani dan Laila Nafila sebagai juara I lomba Analisis Sistem informasi (ANSI) di Universitas Budi Luhur  2018 silam.

 

Penghargaan ini diberikan sebagai apresiasi dari kampus kepada para mahasiswa tersebut karena telah berhasil mengukir prestasi yang luar biasa dan membawa harum nama kampus STT Terpadu Nurul Fikri di tingkat nasional maupun internasional. Mahasiswa berprestasi ini pun secara tidak langsung memberi motivasi dan contoh kepada mahasiswa lainnya untuk terus mengejar prestasi dan terus berjuang membesarkan nama Nurul Fikri baik di kancah nasional ataupun internasional. Kami ucapkan selamat dan terimakasih kepada para jawara yang telah membuat STT Terpadu Nurul Fikri bangga akan prestasi yang telah raih.

Published in Kegiatan Kampus
%AM, %23 %299 %2018 %06:%Des

Jawara Silat Bercita-cita Menjadi Polwan

Dosen STT Nurul Fikri, Sapto Waluyo, menyambut baik prestasi yang diraih Widi Annissah, mahasiswa STT NF program studi Sistem Informasi angkatan 2018 sebagai juara pertama dalam kompetisi pencak silat Sinar Warna Nusantara Championships. “Saya tidak menyangka Widi akan meraih prestasi puncak karena baru semester awal, sementara lawan tandingnya adalah mahasiswa yang lebih senior dari kampus lain,” ujar Sapto yang juga dikenal sebagai pembina jurnalistik kampus. Kompetisi digelar di Gelangggang Olahraga Ciracas, Jakarta (20/12/2018).
 
Widi yang biasa dipanggil Icha mengungkapkan rahasia kemenangannya. “Saya menggunakan jurus andalan tendangan sabit kiri, tendangan kanan dan sapuan berbalik (circle).” Persiapan total dilakukannya sebelum bertarung di babak penyisihan, semi final hingga final. Tidak hanya latihan teknik dan fisik secara intensif, melainkan juga harus menurunkan berat badan. H-3 jelang pertandingan ia harus menurunkan berat badan 2 kilogram dengan jogging, memakai pakaian berlapis dan jaket sauna. “Alhamdulilah, berat turun dari 50,8 kilo menjadi 48,6 dalam waktu tiga hari, sesuai ketentuan pertandingan.”
 
Perjalanan hidup gadis kelahiran Jakarta, 18 Maret 2000 itu juga penuh dinamika. Di usia kanak-kanak dan remaja, ia harus tinggal berpindah-pindah. Mulai RA TK Nurul Jalal di Jakarta Utara, SDN Warakas 01/02 Pagi/Petang Jakarta Utara, hingga menamatkan sekolah di SD Setia Asih 02/06, Bekasi. Karena keluarganya harus mencari nafkah di sekitar Jakarta dan Bekasi. Sekolah menengah diselesaikan di SMP Negeri 269 Jakarta Pusat dan SMK Muhammadiyah 11 Jakarta.
 
Sekarang Icha tinggal asrama putri STT NF karena mendapat beasiswa prestasi. Ia memiliki dua orang saudara kandung. “Insya Allah, saya bercita-cita menjadi Polwan (Polisi Wanita) karena terlihat keren dan bisa menolong orang lain,” tutur Icha.
 
Perkenalannya dengan dunia silat dimulai sekitar 2015, karena melihat atraksi kakak-kakak kelas saat demo ekstra kurikuler di SMK. Pelatihnya di perguruan seni beladiri Tapak Suci Putera Muhammadiyah adalah: Muflih Thufali, Retno Wulandari, dan Masruri. Ia memilih Tapak Suci karena satu-satunya perguruan silat di Indonesia yang mewajibkan peserta puteri berjilbab dan metoda pelatihan sangat islami. “Dari awal pembukaan hingga penutupan menggunakan doa-doa islami. Pembukaannya adalah mengucap dua kalimat syahadat serta doa memohon diberikan ilmu. Sedang penutupnya adalah doa syukur kepada Allah Ta’ala,” jelas Icha.
 
Selama ini Icha telah mengikuti berbagai kejuaraan, seperti Jakarta Championship 4, Jayabaya Open, Pekan Olahraga Remaja Kota (PORKOT), Pekan Olahraga Pelajar Kota (POPKOT), JakPus Championship, Olahraga Olimpiade Siswa Nasional (O2SN) tingkat Jakarta Pusat, tingkat Provinsi DKI Jakarta, Polimedia Cup, dan Sinar Warna Nusantara. “Alhamdulillah, saya pernah berprestasi sebagai Juara 3 JKTC4, Juara 3 JPC, Juara 1 PORKOT, Juara 1 O2SN Tingkat Walikota Jakpus,dan Juara 1 O2SN Tingkat Provinsi DKI Jakarta,” Icha bercerita.
 
Ia merasa bahagia, tatkala berdiri di podium menerima medali, sambil menyanyikan lagu Indonesia Raya. Itu kebahagiaan yang tidak bisa dilukiskan. Itu adalah kenikmatan setelah merasakan sakitnya proses latihan. Rencana tanding ke depan, ia ingin mengikuti kejuaraan yang bergengsi seperti kejuaraan nasional atau internasional Singapura Open. Ia selalu berdoa dan diiringi latihan penuh disiplin.
 
Icha sangat bersyukur karena mendapat beastudi STT NF dari jalur prestasi. Hobi dan bakatnya akan terus tersalurkan lewat pertandingan-pertandingan, namun kuliah juga tak dilupakan. Ia merasakan semua itu sebagai anugerah, bukan beban. Justru bersyukur karena tidak semua mahasiswa atau kaum muda mendapatkan kesempatan sebagaimana dirinya. Jadwal latihannya cukup ketat : Senin, Rabu, dan Ahad. Selain itu, dia juga harus mengatur waktu belajar dan bersosialisasi dengan lingkungan.
 
“Saudari Icha adalah sosok yang berdisiplin dan berprestasi sesuai dengan spirit STT NF sebagai kampus pembentuk karakter NICE (Novelty, Integrity, Caring and Empathy),” jelas Sapto Waluyo. []
Published in Kegiatan Kampus

Kembali ramai menjadi perbicangan di STT Terpadu Nurul Fikri setelah salah satu mahasiswanya menjuarai kejuaraan pencak silat Sinar Wangi Nusantara Championship 5 yang diselenggarakan oleh Yayasan Sinar Wangi Nusantara (SWN). Adalah Widi Annissah, mahasiswi kelas weekend STT Terpadu Nurul Fikri yang sukses mengalahkan peserta lainnya dengan meraih juara pertama di kejuaraan tersebut.

Mahasiswi yang akrab dipanggil Icha ini tidak pernah menyangka akan meraih juara pertama, mengingat peserta lainnya berasal dari perguruan silat ternama. Tapi dengan bermodalkan tekad yang kuat dan atas nama lembaga yang dibawanya menjadi sebuah dorongan dan spirit tersendiri untuk tidak menyerah sampai akhir. “Ya Allah, bahagianya bukan main” ungkapan bahagianya ketika pers. “Bahagia banget, suatu kenikmatan dan kebahagiaan yang tidak bisa tergantikan dengan apapun setelah merasakan sakitnya perjuangan” tambahnya.

Dia menilai kemenangan adalah buah dari perjuangan, setelahmati-matianbertanding dengan lawan yang tidak kalah kuat, dengan kegigihan dan perjuangan buah manis pun dipetiknya, hasil memang tidak akan membohongi proses. “Medali emas yang didapat itu bukan emas murni, tapi emas berlapis keringat, usaha, air mata serta do’a”. tegas Icha saat pers. Menjadi juara bukanlah bakat sejak lahir, namun karena usaha dan perjuangan. Siapapun bisa menjadi pemenang jika dia sungguh-sungguh dalam perjuangannya. Begitupun dengan Icha, karena kesungguhan dan do’a adalah kunci utamanya menjadi jawara. “Teruslah berusaha dan berdo’a, jadikan keduanya sebagai tali yang saling berhubungan. Kita tidak akan tahu tali mana yang akan Allah tarik untuk menarik derajat kita” Widi Annissah.

Published in Pojok Mahasiswa

Kisah kali ini datang dari Muhammad Syaiful Ramadhanakrab disapa Ipul, salah satu mahasiswa aktif Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri (STT-NF). Laki-laki berdarah Jawa ini memang memliki semangat yang luar biasa. “Badan boleh kecil, kampus boleh kecil tapi pemikiran harus besar” itulah yang dikatakan oleh mahasiswa yang berhasil mendapatkan gelar Mapres Utama tahun 2017 ini. Terdaftar sebagai mahasiswa STT-NF sejak tahun 2015 sekaligus penerima beasiswa Beastudi Nusantara bersama dengan 20 teman lainnya menjadikan sosoknya cukup menarik perhatian.

Banyak pengalaman telah didapatnya dari STT-NF sejak semester 1 hingga kini tengah menginjak semester 7. Mahasiswa yang memiliki target lulus 3.5 tahun ini memiliki pengalaman hebatnya tersendiri selama berkuliah di STT-NF diantaranya yaitu menjadi langganan AsistenDosen (Asdos) pada semester 3 untuk mata kuliah DDP, POSA dan Pemprograman Web saat semester 5 serta Metpen saat menginjak semester 7. Tentu tidak hanya sampai disitu saja, masih banyak prestasi yang berhasil didapatkan Ipul, salah satunya sukses menjadi ketua pelaksana Kafillah—salah satu acara besar yang diadakan LDK Senada—pada tahun 2016 silam.

 

Published in Kisah dan Curhat
%AM, %12 %290 %2018 %05:%Jul

Auzan: “Say Hello to Junior”

Tahun ajaran baru hampir dimulai, semua kampus sibuk mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut calon mahasiswa baru (camaba), begitu pula kampus STT Terpadu Nurul Fikri. Bukan hanya bagian staff dan adminitrasi kampus saja yang sibuk bekerja mempersiapkan pendaftaran, tapi juga mahasiswa yang ikut serta dalam panitia Orientasi Akademik. Memang sudah menjadi adat dan budaya perguruan tinggi, mengadakan Orientasi Akademik guna memperkenalkan kepada calon mahasiswa baru seputar kampus yang akan ditinggalinya.

Setiap kampus mempunyai gaya masing – masing dalam pelaksanaan orientasi akademik ini, begitu pula di kampus STT Terpadu Nurul Fikri. Kampus ini punya gaya tersendiri dalam pelaksanaan orientasi akademiknya, di kampus ini pelaksanaan orientasi akademik dikenal dengan nama ORMIK. Panitia ORMIK sendiri diambil dari mahasiswa – mahasiswa pilihan dari angkatan 2015 sampai angkatan 2017.

Dari sekian banyak panitia ORMIK tahun ini, Auzan Assidqi mencantumkan Namanya dalam deretan panitia. Ya, memang mahasiswa yang kerap dipanggil ozan ini merupakan mahasiswa yang aktif baik dalam organisasi maupun akademik. Tercatat auzan mengikuti BEM dan juga IT Klub Robotik, selain itu juga dia sempat lolos seleksi Dicoding depok. Selain aktif berorganisasi, ozan juga berprestasi dibidang akademik. Terbukti pada semester lalu dia mendapat gelar “Mahasiswa Berprestasi”.

Bagi ozan sendiri, ORMIK tahun ini sangat berkesan karena ini pertama kalinya dia menjadi panitia. “Tidak terasa udah satu tahun di STT NF, kemarin di ospek sekarang nge-ospek. Yah berkesan banget lah karena pertama kalinya jadi panitia” ujar Auzan. Dirinya tak menyangka akan menjadi panitia ORMIK tahun ini. meskipun begitu, dia tetap senang mendapat kesempatan menjadi panitia. “Ya.. nanti saya bisa bilang hello ke junior saya hehe.. Alhamdulillah bisa bertemu dan berkenalan lebih awal dengan camaba” tambahnya.

Menjadi panitia ORMIK merupakan pekerjaan baru bagi Auzan, artinya berbagai kesibukan baru akan dihadapinya. ORMIK merupakan satu dari sekian banyak kesibukan yang dihadapinya. Selain ORMIK, Auzan mempunyai kesibukan di IT Klubnya membuat project untuk demonstrasi di acara ORMIK. Meskipun begitu, auzan tetap bisa memanajemen waktu dengan sangat baik. Dia selalu aktif mengikuti rapat pannitia ORMIK dan juga tidak lupa dengan pekerjaannya di IT Klub. “Capek sih enggak, tapi kadang suka bingung, hari ini ada acara apa dan dari mana. Tapi alhamdulillah jika dijalani dengan ikhlas, pekerjaan berat pun terasa ringan”. Imbuhnya pada saat pers.

Menjadi mahasiswa aktif dalam organisasi tidak menutup dirinya dari target “mahasiswa berprestasi” semester ini. Berbagai kesibukannya tidak mengurangi semangat belajarnya dan melupakan akademik. Berbagai kesibukannya dijadikan tolak ukur kebehasilannya memanajemen waktu. Sebuah pelajaran berbarti bagi mahasiswa lainnya untuk tetap aktif beroraganisasi tapi juga tidak melupakan akdemik.

Published in Kisah dan Curhat