APICTA  (Asia Pacific ICT Alliance) Awards 2018 merupakan sebuah ajang yang memiliki tujuan untuk meningkatkan kesadaran ICT (Information and Communication Tehnology) di masyarakat dan membantu menjembatani kesanjangan digital. APICTA kali ini diadakan di Ghuang Zhou, China pada 9-13 Oktober 2018. Dzaki Mahfuzh Hamadah dan Muh. Isfaghani Giyath mahasiswa semester 7 jurusan Teknik Informatika STT-NF memiliki kesempatan menjadi salah satu perwakilan Indonesia di ajang awards APICTA tahun ini.

Begitu beruntung sekali mahasiswa STT-NF memiliki peluang yang membanggakan pada ajang APICTA 2018 kali ini, walaupun persiapan yang dilakukan cukup singkat yaitu hanya satu setengah bulan menjelang acara APICTA berlangsung. Adalah Dzaki Mahfuzh Hamadah dan Muh.Isfahani Ghiath yang berkesempatan mewakili Indonesia di ajang bergengsi ini. Dzaki—begitu sapaan akrabnya, merupakan lelaki kelahiran Kalimantan. Sosoknya yang periang, pantang menyerah, visioner dan memiliki communication skill yang tidak diragukan lagi memang cukup mencolok di kalangan mahasiswa STT-NF. Ketika diwawancarai terkait pengalamannya di China, Dzaki memberikan cerita yang cukup menarik. Pasalnya, ini adalah kali pertama dirinya menginjakkan kaki di negeri beruang itu.

Baginya hal yang paling berkesan adalah ketika Allah memberikan kesempatan pada lelaki peraih Mapres Favorit STT-NF 2018 ini adalah ketika diizinkan melaksanakan Sholat Jumat di sebuah Masjid di Ghuangzhou China. Menurutnya sungguh hebat dan luar biasa bisa menunaikan Sholat Jumat di China, melakukan khotbah dua kali hingga dua jam Sholat Jumat. Bukan hanya itu, pengalaman yang tak kalah mengesankan lainnya adalah ketika ia dapat menginjakan kaki ke tiga negara dalam satu kali perjalanan sekaligus yaitu China, Singapura dan Malaysia. Memiliki relasi dari berbagai negara dengan keunikan dan budaya yang beragam hingga mengantarkan dirinya berkenalan dengan salah satu peserta lain yang berasal dari Australia, memberikan kesan tersendiri bagi Dzaki.

Mahasiswa yang kini aktif sebagai ketua badan legislatif STT-NF ini memang patut diacungi jempol dan apresiasi yang sebesar-besarnya atas segala pengabdian yang telah diberikan pada kampus berlogo biru ini karena telah mampu membawa nama STT-NF hingga ke kancah internasional. Karena pengalaman emasnya tersebut, dzaki memberikan pesan untuk seluruh mahasiswa  STT-NF untuk berani mengembangkan diri, tentu bukan hanya di dunia perkuliahan saja tapi juga aspek lain yang dapat mendukung pengembangan diri.

 

Published in Kisah dan Curhat

APICTA merupakan aliansi dari organisasi ICT untuk membangun dan meningkatkan jaringan guna meningkatkan kerjasama dalam bidang ICT serta meningkatkan inovasi teknologi serta mendorong pengembangan ICT untuk pasar global.

APICTA awards sendiri merupakan program penghargaan internasional yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran ICT dalam masyarakat dan membantu menjembatani kesenjangan digital, program ini dirancang untuk merangsang inovasi ICT dan kreatifitas, meningkatkan hubungan ekonomi dan perdagangan, memfasilitasi transfer teknologi, dan menawarkan peluang bisnis yang cocok melalui paparan kapitalis ventura dan investor. Ajang yang berkaitan dengan IT tersebut digelar 9-13 Oktober 2018 di Guangzhou, China.

Sekolah Tinggi Teknologi Terpadu Nurul Fikri (STT-NF) berkesempatan mengikuti ajang APICTA 2018 mewakili negara Indonesia yang diwakilkan oleh Mahasiswa STT-NF Jurusan TI 2015 yaitu Muhammad Isfahani Ghiyath & Dzaki Mahfuzh Hamadah.

Dalam ajang APICTA 2018 kali ini mahasiswa STT-NF melombakan karyanya berupa program WeBlocker. Weblocker adalah sebuah tools untuk mendeteksi konten pornografi dan melakukan pengawasan aktivitas browsing yang terjadi di komputer dan terintegrasi ke perangkat mobile. Weblocker ditujukan untuk memonitor laptop dan komputer milik anak agar dapat dipantau oleh orang tua. Sehingga, mencegah dampak penyalahan internet yang lebih lanjut.

Keteraturan remaja Indonesia dalam mengakses internet, masih belum terdukung secara optimal dari segi keamanan. Dengan maraknya ditemukan konten negatif yang terutama banyaknya konten pornografi, dan diikuti dengan kenyataan bahwa para remaja dan anak-anak dapat mengakses internet tanpa batas, telah memiliki dampak buruk untuk mereka terutama pada kesehatan mental dan pikiran.

Dibandingkan dengan INSAN (Internet Sehat dan Aman) yang dimiliki KOMINFO, weblocker mempunyai teknologi dan algoritma yang lebih mumpuni, karena pendeteksian yang lebih mendalam dan detail dengan beberapa metode pendeteksian terhadap penerapan filtering seperti pendeteksian berdasarkan teks, pendeteksian berdasarkan nama situs atau domain name server, atau berdasarkan citra yaitu image processing dan video detection.

Diharapkan dengan program weblocker ini dapat membantu Indonesia agar terhindar dari pornografi dan dapat memenangkan perlombaan di ajang APICTA 2018.

Published in Pojok Mahasiswa